Tittle: WINTER BIRTHDAY
Length: Oneshoot
Cast:
·
Henry Lau
·
Lee Hyuk
Jae
·
Song Kyu
Chi
·
Song Sae
Hwa
Author: Yuli Nurul Maulida (Song YuRi)
Fb: Yuli Nurul MauliElf
Twitter: @snowminrhi
Genre: Hurt, sad, romance.
Disclaimer: Super Junior belong to ELF.
Sungmin is mine XD
FF ini Cuma fiksi, dan ini murni pemikiran
dari otak author. DON’T COPAS tanpa ijin!!
Happy Reading J…
#
#
#
#
“Menunggumu adalah kegiatanku sehari-hari,
karena aku percaya kau akan datang meskipun waktu membuktikannya dimasa depan…
”
####~
2010…
Salju terus
turun menyelimuti semua yang disentuhnya, menjadikan semuanya menjadi putih.
Angin musim dingin terus menerpa tubuhku hingga menggigil kedinginan.
Kurapatkan coat berbulu yang melilit pada tubuhku. Suhu minus 5 derajat tak
membuatku berhenti berdiri disini. Kukeluarkan sebuah benda dari saku coat yang
kugunakan. Kuamati benda bulat itu, didalamnya tampak angka-angka yang
membentuk sebuah lingkaran dan juga terdapat jarum yang bergerak terus melewati
angka itu.
“Huh, kau
terlambat dua jam.”
Aku mulai
mengedarkan pandangan mataku , mencari sekali lagi. Meyakinkan diriku sendiri
orang yang kutunggu semenjak beberapa jam lalu benar-benar tidak datang. Yeah,
yang kulihat hanya hamparan salju putih yang menutup jalanan ini dan hanya
sedikit orang yang melewatinya. Ini sudah biasa terjadi, dia kembali tak
datang. Aku tak menangis, rasanya aku benar-benar lelah menunggu sehingga
melupakan bagaimana caranya menangis. Kulangkahkan kakiku yang daritadi hanya
menurut untuk berdiri. Belum sempat beberapa langkah aku kembali menengok,
benar benar memastikan.
“Untuk ke
empat kalinya, kau tak menepati janjimu…” lirihku pelan. Aku kembali melangkah,
menembus tebalnya salju yang menutupi jalanan.
***
“Kejutan.
Saengil Chukkahamnida…” Sorak ramai terdengar dari beberapa orang setelah aku
membuka pintu rumah dan menyalakan lampu. Terdapat sebuah kue yang cukup besar
diantaranya. Seorang yeoja menghampiriku dan tersenyum lembut.
“Naui
dongsaeng, saengil chukkaeyo.” Yeoja itu memelukku erat. Lama aku berada dalam
pelukan kakak perempuanku. Aku melirik satu persatu orang yang berada dalam
ruangan ini, mereka semua tersenyum padaku. yeah aku mengenal mereka semua,
teman kuliahku.
“Ya! Onnie
hentikan…” Aku mulai sadar dan berusaha melepaskan pelukan itu.
“Kami semua
menyiapkan….”
“Gomawo.”
Ucapku memotong omongan onnieku. “Kalian tidak usah melakukan hal tak berguna
seperti ini. sebaiknya kalian semua pulang sebelum salju turun semakin lebat.”
Aku menunduk dan tersenyum pada mereka semua.
“Ya! Kyu
Chi…”Sae Hwa Onnie berteriak dan kupastikan dia akan memarahiku dan mengajakku
bertengkar kembali. Aku tak perduli, segera aku berjalan ke kamarku yang tak
jauh dari sini. Aku ingin sendiri.
BRAAKKK..
Pintu
kamarku terbuka secara paksa setelah aku membuka coat dan menggantungkannya
didekat lemari. Seorang yeoja yang berdiri tegak dan melipat kedua tangannya
dibalik pintu, wajahnya tak seramah saat menyambutku sesaat yang lalu.
“Apa
maksudmu Kyu Chi-ya? Kau mencoba mengusir mereka?” Tanya onnie ku sedikit
berteriak. Aku melihatnya sebentar, wajahnya merah menandakan dia benar benar
sedang marah.
“Aku tak
mengusir mereka. Aku hanya tak ingin orang-orang melakukan hal yang tak berguna
seperti itu.”
“Tak berguna
maksudmu? Seharusnya kau bersyukur karena kau masih diberikan kehidupan sampai
saat ini.” Sae Hwa onnie menarik nafas, cukup lama “Cepat, temui mereka dan
rayakan bersama. Kau tahu mereka sudah menunggumu daritadi dan menyiapkan
segalanya.” Sae Hwa onni mendekatiku dan meraih tanganku. Dia mencoba
menarikku, aku tetap tak bergeming. Diam.
“Kau tahu
kan aku benci ulang tahunku?” lirihku. Aku tersenyum pada sae hwa onnie, senyum
yang menampakkan luka. “Aku lelah eon. Kau temui mereka dan suruh mereka
pulang.” Lanjutku. Kutepis tangan sae hwa onnie yang memegang tanganku.
“Dia pasti
tak menepati janjinya lagi bukan? Huh sudah kuduga.” SaeHwa onnie menyeringai
dan menatapku tajam. “Kyu Chi-ya lupakanlah dia. Lupakanlah namja itu...”
Aku tetap
diam tak bergeming. Sae hwa onnie sudah sering menyuruhku hal itu. Menyuruhku
melupakan namja yang kucintai, Henry.
“Kau pikir
bisa seenaknya menyuruhku melakukan hal itu? Dia itu namjachinguku. Dan aku
percaya padanya.” Yakinku pada sae hwa onnie.
“Kau bahkan
masih menganggapnya namjachingumu?? Setelah dia meninggalkanmu dan kau bahkan
setia menunggunya selama empat tahun terakhir, Kyu Chi-ya mungkin saja henry
sudah melupakanmu sekarang. Kau itu terlalu bodoh…”
“Aku tidak
bodoh onnie. Aku hanya percaya pada janjinya, aku percaya pada keyakinanku. Aku
yakin dia masih mengingatku dan mencintaiku…” Aku menekan kata per kata yang ku
ucapkan.
“Kau selalu
seperti ini di setiap hari ulang tahunmu. Lupakanlah dia, jika kau peduli pada
dirimu sendiri. Percayalah, Dia tak akan kembali…” Sae Hwa onnie pergi
meninggalkanku sendiri. Aku bisa menangkap jelas perkataan onnie barusan.
Otakku berpikir secara logis dan mengingat secara jelas janji yang diucapkan
Henry. Aku mengamati sebuah benda yang sedari tadi aku pegang, arloji putih itu.
Aku hanya bisa kembali membuka ingatan yang selalu ku kenang itu…
***
Flashback..
2006
“Ya! Henry,
kita mau kemana?” Aku terseok-seok mengimbangi langkah henry yang cepat. Tangan
kiriku degenggam dengan erat oleh tangan kanannya. Aku tak bisa berbuat
apa-apa, hanya mengikuti langkah henry.
“Kau tahu
Sae Hwa onnie pasti akan memarahimu nanti, karena kau tiba-tiba menculikku..”
Aku mengingatkan henry, dia sedikit keterlaluan karena tiba-tiba menarik
tanganku yang tengah bersama Sae Hwa onnie di Myeongdong. Sudah kusimpulkan
pasti Sae Hwa onnie tengah panik karena mendapatiku yang tidak bersamanya.
“Biarkan
saja.” Tanggapnya. Aku bisa melihat wajahnya yang putih dan mulus seperti bayi.
Rambutnya yang kecoklatan diterpa angin musim dingin sehingga membuatnya
sedikit berantakan.
Kami
berhenti berlari disebuah jalan yang masih dekat dengan daerah myeongdong. Aku
berusaha mengatur nafasku karena sudah berlari cukup jauh tadi. Kuedarkan
mataku keseluruh penjuru tempat ini. Hanya terdapat pohon-pohon yang
terselimuti salju disekitarnya. Sepi.
“Kau ingat
tempat ini?” tanyanya.
Aku
mengangguk, “Ini kan… jalan ini adalah tempat pertama kali kita bertemu. Eoh?”
“Benar …”
ucapnya.
Aku menembus
pikiran dan memoriku dengan henry. Pertama kali kami bertemu, tanpa
kesengajaan. Pada musim gugur tahun lalu, saat aku aku berjalan melewati daerah
ini sepulang sekolah tiba-tiba aku bertemu dengan seorang namja. Keadaannya
cukup menyedihkan, dia terus menangis dipinggir jalan dan mengaku terpisah dari
keluarganya. Kuketahui namja yang ternyata seumuran denganku itu bukan orang
korea asli. Dia berasal dari kanada namun berdarah china dan Taiwan. Pantas
saja bahasa koreanya itu sangat minim, dan benar-benar tidak mengetahui apapun
tentang korea.
Aku
menyelamatkannya, aku berusaha menemukan tempat tinggalnya di korea. Hubungan
kamipun saat itu menjadi sangat dekat, sampai dia benar-benar menyatakan
perasaannya. Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Kami seperti ditakdirkan untuk
bersama.
“Aku selalu
tertawa saat mengingat kau menangis saat itu. Kau itu laki-laki, memalukan
sekali menangis seperti itu.” Ejekku yang menahan tawa.
“Aku saat
itu tersesat, lagipula daerah ini sepi sekali. Bahasa koreaku saat itu sangat
tidak bagus dan aku benar-benar tidak tahu daerah ini. jadi yang bisa kulakukan
saat itu adalah menangis.” Bela Henry, dia mengerucutkan bibirnya kedepan.
Omo.. kau membuatku gemas henry.
“Tetap saja
kau itu sudah besar dan kau itu adalah namja.” Jelasku memberi penekanan pada kata
namja.
“Memangnya
tidak boleh kalau namja menangis?” gertaknya.
“Tidak
boleh.” Ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Dia menatapku tajam dan
menangkupkan tangannya pada wajahku.
“Kau begitu
menggemaskan Kyu Chi-ya…” ucapnya sambil mengelus-ngelus pipiku. Aku menunduk
malu, kupastikan wajahku saat ini sudah memerah.
“Kajja..”
ajaknya dan menyuruhku duduk dipinggir trotoar jalan ini. Kurasakan suhu yang
dingin kembali menggelitik tubuhku, hujan salju kali ini berhasil menutupi
sebagian jalanan ini dengan warna putih.
Henry
membuka kotak violin yang sejak tadi dibawa dan dipegang oleh tangan kirinya.
Dia mengambil violin coklat itu dan memainkannya berdiri di depanku.
Nyaman,
melodi yang terdengar benar-benar sangat indah. Harmonis. Lama aku menikmati
melodi yang dimainkannya. Aku berdecak kagum saat henry telah selesai memainkan
nada-nada itu.
“Hebat
sekali…” kataku padanya, sebenarnya tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan
kehebatannya bermain violin. Dia memasukkan kembali violinnya dan tersenyum
padaku.
“Saengil
Chukkahamnida chagi.. Saengil Chukkahamnida untuk ulang tahunmu yang ke 18.”
Dan Chu~ dia
mencium pipiku.
Aku terkejut
atas tingkah lakunya yang mengagetkan. Aku menyembunyikan wajahku yang merona,
malu.
“Kau tahu,
lagu yang baru saja kumainkan adalah ciptaanku sendiri.” Ujarnya bangga.
“Jinjja? Itu
sangat indah.” Tanggapku.
“Lagu itu
khusus untukmu Kyu Chi. Judulnya Winter Birthday.” Jelasnya semangat. Aku membulatkan mataku,
kaget.
“Aku sangat
menyukai itu Henry.” Ucapku semakin menundukkan wajahku. Aku yakin wajahku
pasti sudah benar-benar merah. Henry-ya, kau pandai sekali membuat jantungku
berdetak lebih cepat seperti ini dan membuatku gugup. Dia kemudian duduk
disampingku.
“Kyu
Chi-ya…” panggilnya.
“Hmm?” aku
menjawab panggilannya dengan berdehem.
“Aku...
Besok aku akan kembali ke Taiwan. ” Ungkapnya.
Aku tidak
merespon ucapannya. Aku tahu kejadiannya akan seperti ini. henry datang ke
korea bukan untuk menetap. Itu hanya untuk sementara waktu. Dia pasti akan
kembali ke Taiwan atau kanada.
“Kau… tidak
terkejut, eoh? Apa kau tidak merasa sedih jika aku pergi?” tanyanya.
Aku
menggeleng pelan, “Aku tahu akan seperti ini, dan aku belajar untuk tidak
terkejut.” Jelasku. Kemudian aku mengambil tangan henry dan menggenggamnya,
hangat. Bahkan suhu yang sangat dingin pun tetap membuat tangan henry hangat.
“Aku pasti
akan sangat kesepian jika kau pergi.” Lanjutku.
Henry
semakin mengeratkan genggamanku, dia menatapku dalam. “Aku juga, aku pasti akan
sangat merindukanmu.” Ungkapnya. Aku sedikit senang mendengar ucapannya itu.
Dia
mengambil sesuatu dibalik jaket musim dinginnya dan menyerahkannya padaku. Aku
mengambil kotak kecil yang diberikan henry.
“Arloji..?”
sahutku saat membuka kotak itu. Terlihat sebuah arloji ukuran mungil dengan
warna putih yang terkesan elegan.
“Ne, aku
juga punya yang sama.” Ucapnya sambil menunjukkan benda yang sama persis dengan
yang kupegang.
“Jika kau
merindukanku lihatlah arloji itu, karena aku juga pasti akan merindukanmu.
Disetiap detiknya dan waktunya yang selalu berjalan, disetiap itu pula aku
selalu mengingatmu dan merindukanmu.”
Aku
tersenyum mendengar pernyataannya.
“Berarti kau
akan selalu mengingatku setiap detik?” tanyaku menggodanya dan tersenyum lebar.
“Tentu
saja.” Jawabnya singkat.
“Gomawo
Henry. Ini adalah hari ulang tahun yang paling indah bagiku.” Ungkapku. “Karena
ada kau semua hari menjadi sangat indah. Dan karena kau pula, aku jadi menyukai
hari ulang tahun. Kau tahu, aku sebenarnya tidak menyukai hari ulang tahunku
sendiri” lanjutku.
“Aku akan
membuat hari ulang tahunmu menyenangkan dan indah setiap tahunnya. Aku juga
akan selalu memainkan lagu yang kuciptakan untukmu pada hari ulang tahunmu.”
Terang Henry.
“Bagaimana
jika kau lupa hari ulang tahunku?” tanyaku takut-takut.
“Hari ulang
tahunmu itu sangat mudah diingat, satu hari setelah natal. 26 Desember.” Terang
Henry. “Tenang saja aku akan selalu mengingatnya disini.” Ucap henry sambil
memegang dadanya. Aku tersenyum sendiri melihat itu.
“Apakah kau
bisa menepatinya? Kau bahkan akan pergi ke Taiwan dan menetap disana.”
Gertakku, aku tidak mau henry berjanji sesuatu yang tak bisa ditepatinya. Henry
terdiam cukup lama, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana
kalau kita saling berjanji?” Usul Henry.
“Janji?”
Henry
tersenyum simpul. “Janji pertama, kita harus berjanji kalau kita harus tetap
saling mencintai. Yang kedua, dimasa sekarang dan masa depan kita tetap harus
bersama. Ya meskipun hubungan kita akan menjadi jarak jauh tapi itu tidak boleh
menjadi alasan. Ketiga…” henry menghentikan ucapannya dan terlihat sedikit
berpikir.
“APA?”
Tanyaku penasaran.
“Yang
ketiga, Disaat hari ulang tahunmu, tepatnya pukul tiga sore kita berjanji akan
bertemu disini. Dijalan ini. Dan kita akan merayakan ulang tahunmu
bersama-sama. Ottokhae??” Aku mengangguk pasti. Janji yang tak susah, semuanya
pasti bisa kutepati.
“Tapi
bagaimana jika ada yang melanggar. Apakah ada hukuman?”
“Hubungan
kita berakhir.” Jawab Henry mantap. Ada perasaan aneh yang menyusup dalam hatiku.
Yeah aku takut janji itu tidak ditepati.
“Kau pasti
akan menepatinya kan?” tanyaku meyakinkan. Henry menatap mataku dalam dan
menarik tubuhku kedalam pelukannya.
“Aku janji.”
Ucapnya. Nafasnya menderu dan menggelitik leherku geli. Pelukannya semakin
erat, hangat. Entahlah ada perasaan aku tak rela melepasnya pergi.
“Kau besok
tak usah mengantarku ke bandara. Itu akan membuatku sangat susah
meninggalkanmu. Arrasseo?” lirih henry tepat ditelingaku.
Aku
mengangguk mendengar perintah dari Henry. aku termenung, aku merasa ini adalah
terakhir kali kami bersama. Kutepis perasaan itu dan mencoba percaya pada janji
yang dibuat sendiri oleh henry.
Tapi rasanya
aku benar-benar tak bisa melepas pelukanmu kali ini, Henry Lau.
Flashback
end
***
Aku masih
mengamati arloji yang melingkar ditangan kiriku. Jarumnya masih bergerak dan
berjalan, apakah itu tandanya henry masih mengingatku? Tak ada yang tahu.
Sekarang dia di Taiwan dan aku benar-benar tidak bisa menghubunginya,
komunikasi kami terputus.
“Jika ada yang melanggar, hubungan kita
berakhir.” Aku ingat perkataan Henry empat tahun yang lalu. Apakah dia
mempermainkanku? Membuat janji itu dan melanggarnya.
Tapi aku
masih mencintainya, dan aku harus menunggunya setahun lagi.
Menunggu,
aku lelah melakukan hal itu. Aku takut penantianku selama ini sia-sia. Aku
takut Henry tak akan kembali.
Dan aku juga
takut kepercayaanku semakin memudar..
***
Kuderu
langkah kakiku semakin cepat. Salju yang mulai menipis menandai bahwa musim
dingin akan segera berakhir. Ekor mataku benar-benar memperhatikan kendaraan
yang lalu lalang di jalanan ini. tapi sial, aku benar-benar tidak menemukan
taksi. Sedangkan rumahku masih cukup jauh dari daerah ini.
Tap tap..
Aku mulai
mendengar suara langkah kaki semakin mendekatiku, tepat berada dibelakangku.
Perasaanku tidak enak. Aku hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
Tap… tap…
Langkah itu
semakin mendekat. Aku takut. Aku merutuki diri sendiri yang tadi memutuskan
mengerjakan tugas sampai selarut ini di kampus, tempat kuliahku.
Tap..
Kuputuskan
untuk memberanikan diri menengok kebelakang. Kosong. Tak ada siapa-siapa.
Aku kembali
berjalan, sedikit berlari untuk mempercepat langkahku.
“Kyu
Chi-ya…” aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku kembali menengok
kebelakang. Kudapati seorang namja sedang berdiri dihadapanku sekarang. Dia
tampan dan tinggi.
“Nuguseyo..?”
tanyaku takut. Aku harus waspada, setidaknya wajah yang tampan tidak menjamin
bahwa namja itu bukan penjahat.
“Kau Kyu Chi
kan? Aku Hyuk Jae. Lee Hyuk Jae…” Terang namja itu. Aku masih berpikir, sedikit
mengingat-ingat. Sepertinya nama nya familiar denganku, tapi aku lupa.
“Ice Cream
Vanilla…” Ucapnya geram melihatku yang sejak tadi berusaha mengingat-ingat. Aku
tersenyum mulai menemukan jawabanku.
“Oppa…”
kataku senang.
*
“Bagaimana
kehidupanmu sekarang?” tanyanya sambil sesekali melihat kearahku dan kembali
fokus menyetir.
“Tidak
terlalu bagus oppa.” Jawabku ketus. Hyuk Jae, orang yang kupanggil oppa dia
adalah teman semasa kecilku dan Sae Hwa onnie. Menyenangkan sekali bukan
bertemu kembali teman lama.
“Kenapa?”
tanyanya penasaran.
Aku mulai
menceritakan keadaanku sekarang. Yeah, hubunganku dan sae hwa onnie yang cukup
buruk sekarang. Semuanya, kehidupanku yang menurutku sedikit kacau. Kecuali
masalah henry.
“Bagaimana
denganmu?” tanyaku balik.
“Menyenangkan.”
Jawab Hyuk Jae oppa singkat. Kami kembali menyelami masa lalu, saat aku dan
hyuk jae oppa selalu bertengkar hanya karena ice cream vanilla. Kami tertawa,
rasa humornya yang ringan mampu melupakanku sesaat tentang Henry.
“Jadi ini
rumahmu?” tanyanya saat kami sudah sampai di depan rumahku.
“Tentu saja
oppa. Gomawo karena sudah mengantarku pulang.Lain kali kau mampir ya.” Ajakku
padanya. “Oh ya, kau tidak menanyakan kabar Sae Hwa onnie?” tanyaku sebelum
masuk kedalam rumah.
“Ah iya,
sampaikan salamku untuk Sae Hwa!.” Ujar hyuk jae oppa. Dia tersenyum lebar dan
memperlihatkan gusinya. Senyum khasnya.
“Ne,
Annyeong oppa.” Kulambaikan tangan padanya. Entah kenapa aku nyaman berada
disisinya. Hyuk jae oppa sudah kuanggap seperti oppa kandungku sendiri.
Pertemuan
yang singkat, dan mampu merobohkan segala penantianku. Aku pun tak mengerti.
***
“Maukah kau
menjadi yeojachinguku?” aku membulatkan mataku tak percaya.Kutatap wajah namja
yang berada didepanku ini. dia tersenyum kikuk dan sedikit merapikan rambutnya
yang padahal sudah benar-benar rapi.
Aku
menggeleng-gelengkan kepalaku tak mengerti. Lee Hyuk Jae, kenapa dia seperti
ini? tiba-tiba memintaku menjadi yeojachingunya. Hubunganku dengannya kupikir
hanya sebagai oppa-dongsaeng.
“Oppa.. kau
sedang bercanda kan?”
“Apa aku
terlihat seperti sedang bercanda?” Hyuk Jae oppa malah berbalik menanyaiku.
Kulihat matanya dalam, mencari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaanku saat
ini. Tapi yang kulihat hanya sebuah ketulusan dimatanya.
“Lantas,
kenapa kau memilihku?”
“Aku… Aku
mencintaimu Kyu Chi…” Lirihnya. “Jadi apakah kau mau menjadi yeojachinguku?”
tanyanya mantap.
“Oppa..
sebetulnya, aku sudah mempunyai namjachingu.” Ungkapku berterus terang.
Hubunganku dengan Henry memang sangat sulit dan tidak jelas saat ini. tapi
menurutku hubungan kami belum berakhir, belum resmi berakhir.
“Aku tahu
itu. Henry Lau, namja yang berasal dari kanada berketurunan china dan Taiwan.
Dia kan orangnya?” Aku kaget, Hyuk Jae oppa tahu itu. Padahal sebelumnya aku
belum pernah menceritakan tentang henry sama sekali.
“Kumohon Kyu
Chi-ya. Aku sudah mengetahui segala hal tentang henry dan kau. Itu sungguh
tidak logis jika kau masih menunggunya. Kumohon, pertimbangkanlah…” dia
menggenggam tanganku dan memohon padaku. ‘Tidak’ Ingin sekali aku mengatakan
hal itu. Tapi lidahku seperti menolak untuk mengatakannya. Aku melepaskan
genggaman tanganku dari Hyuk Jae Oppa.
“Aku sudah berjanji
padanya op..”
“Bukankah
dia sendiri juga sudah melanggar janjinya?” ucapnya memotong omonganku. “Aku
berjanji akan selalu membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu.”
Lanjutnya. Sedikit aku bisa menerawang kehidupanku bersama Hyuk Jae oppa.
Bahagia, mungkin itu bisa kudapatkan. Nyaman, dia memang selalu membuatku
terasa seperti itu. Tawa, tingkahnya yang lucu bisa membuatku tertawa puas.
Tapi cinta dan ketulusan hati tak kurasakan jika bersamanya.
Aku
memegangi kepalaku yang terasa pusing. Ini sungguh sulit.
***
Kupandangi
terus benda itu. Lalu , kubuka laci meja dan kutaruh benda itu disana.
Tindakanku mungkin tepat. Aku ingin menguburnya, semua tentangmu dan kenangan
denganmu henry..
“Mianhe, aku menyerah. Mungkin ini adalah
akhir dari penantianku selama ini. Mungkin ini akhir dari rasa cintaku. Mungkin
ini akhir dari sakit yang kurasakan saat
aku begitu lelah menunggumu…”
####~
2011..
Kehidupanku
berjalan lancar sekarang. Hyuk Jae oppa, dia benar-benar berusaha untuk
mengertiku dan membahagiakanku. Aku juga begitu, berusaha untuk mencintainya.
“Saengil Chukkahamnida chagi… Aku sudah
menyiapkan sebuah tempat untuk merayakan ulang tahunmu. Ehm, tentu saja hanya
kita berdua yang merayakannya.. kkkk
Pakai gaun ini dan berdandanlah yang cantik
^^
Segera aku akan menjemputmu…”
Begitulah
pesan yang tertulis disebuah surat yang berwarna merah muda yang baru saja
kuterima. Pesan itu juga disertai sebuah kotak yang cukup besar. Kubuka kotak
itu, sebuah dress hitam selutut dengan model yang simple tapi terlihat elegan.
“Cepat kau
siap-siap…!!!” perintah seseorang yang tiba-tiba muncul dibalik pintu kamarku.
“oppa, kau
mengagetkanku saja.” Ucapku kaget, kusunggingkan senyum dibibirku. “Kemana kita
akan pergi, eoh?” tanyaku penasaran.
“Rahasia.”
Jawabnya singkat. “Aku menunggumu dimobil. Kutunggu paling lama 15 menit.
Arrasseo?” lanjutnya berkata padaku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
“Kyeopta.” Gumamku
sendiri saat melihat pantulan diriku di cermin yang sudah memakai dress hitam
itu. Aku memutuskan memakai cardigan untuk menutupi bagian atas tubuhku
mengingat dress ini tak berlengan.
“Neomu
yeppeo…” komentar seseorang. Kulihat Sae Hwa onnie sedang menatapku takjub
disampingku.
“Ya onnie,
kapan kau masuk? Seperti setan saja tiba-tiba datang.” Tanyaku kaget. Aku tak
menyadari kehadirannya yang datang kekamarku. Aissh, kupikir hari ini
orang-orang telah sukses membuatku selalu terkejut.
“Ya Kyu Chi…
kau saja yang tidak menyadari kehadiranku.” Bentaknya. “Gomawo karena sudah
menjadi Kyu Chi yang seperti dulu.” Lanjutnya berterima kasih. Aku
mengernyitkan dahi, bingung.
“Memangnya
Kyu Chi yang dulu seperti apa?” tanyaku bingung.
“Kyu Chi
yang selalu ceria. Untungnya kau tidak memikirkan Henry lagi pada hari ulang
tahunmu yang sekarang. Hyuk Jae, dia benar-benar sudah mengembalikanmu ke
kehidupan yang normal.” Jelas sae hwa onni panjang lebar.
“Kumohon
onnie, jangan sebut nama itu lagi.” Pintaku. Henry lau, meskipun sekarang aku
bersama Hyuk Jae oppa tetap saja aku selalu merasa hatiku itu selalu bersama
henry. Aku masih sangat mencintainya, itu yang membuatku sangat susah melupakan
namja itu.
Sae Hwa
onnie masih memandangku heran. Dia mengangguk, ya mungkin onnie mengerti bahwa
aku tak ingin mendengar namanya lagi karena akan membuatku sangat susah
melupakannya.
“Ppali, kau
sudah siap kan? Hyuk Jae menunggumu diluar.” Ucap onnie memulai pembicaraan
kembali. Aku mengangguk, bergegas melenggang keluar ruangan menemui namja
chinguku itu.
“Dompetku…
Aish, aku lupa meninggalkannya dikamar. Onnie, katakan padanya untuk menunggu
sebentar lagi. Aku harus mengambil dompetku.”
Aku kembali
ke kamar. Kucari- cari benda itu. ‘dimana aku menyimpannya?.’ Ujarku pelan, aku
sedikit panik sekarang. Kembali kuingat-ingat terakhir kali menyimpannya. Di dekat
ranjangku, tidak ada. Di dalam tasku, tidak ada. Lemari, juga tidak ada. Kucari
benda berharga itu dilaci mejaku.
“PRAAAANG…”
Kudengar
bunyi benda jatuh. Arloji itu, aku membulatkan mataku tak percaya. Kenapa
arloji itu bisa terjatuh? Kuambil dan kuamati kembali arloji yang sudah lama
tak kulihat itu. Kacanya retak dan jarumnya sudah tidak berjalan, itu sudah
rusak. Aku masih tidak mengerti.
“Disetiap detiknya dan waktunya yang selalu
berjalan, disetiap itu pula aku selalu mengingatmu dan merindukanmu.”
Kembali kata-kata Henry terngiang dikepalaku.
Ini.. apa
artinya? Apakah itu berarti Henry sudah tak mengingatku lagi. Perasaan itu
menyusup kembali didalam hatiku. Dimana aku sangat merindukannya. Dimana aku
selalu menunggunya.
“….pukul tiga sore kita berjanji akan
bertemu disini. Dijalan ini. Dan kita akan merayakan ulang tahunmu
bersama-sama.”
Kulihat jam
yang tergantung di dinding kamarku. Pukul 03. ‘Henry, kau menginginkanku untuk
datang? Apakah kau juga berada disana?’ pertanyaan pertanyaan terus tumbuh
dalam otakku.
“Henry…”
gumamku pelan, sangat pelan. Bulir air jatuh tepat mengenai arloji itu. Aku
terheran, aku menangis?
“Aku harus
menemuimu…” lirihku lagi.
Kulangkahkan
kakiku cepat, tanpa memperdulikan dress yang kugunakan dan sepatu high heels
yang terpasang di kedua kakiku.
“Kyu
Chi-ya….” Panggil seseorang kaget ketika aku melewatinya begitu saja. Aku
berhenti melangkah. Sejurus kemudian dia memegang tanganku dan menyuruhku masuk
kemobil.
“Tidak.”
Kataku menepis tangannya.
“Wae? Bukankah
kita akan pergi?” tanyanya heran.
“Aku harus
menemui seseorang oppa. Mianhe, Jeongmal mianhe…” kataku merasa bersalah.
“Nuguya?”
tanyanya datar dia menatapku dalam.
“Henry.”
Jawabku singkat. Dia terdiam, masih menatapku dengan tatapan kecewa. “Mianhe
oppa. Aku tidak bisa denganmu. Henry menungguku sekarang.” Jelasku padanya. Dia
masih terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan.
“Apakah kau
yakin dia juga akan menepati janjinya kali ini?” Tanyanya, masih dengan nada
datar. Aku menatapnya tak percaya, kukira Hyuk Jae oppa akan memarahiku karena
sikapku ini.
Aku
mengangguk pelan. “Aku merasakannya oppa..”
“Pergilah…”
ucapnya singkat dan tersenyum padaku. Aku terkejut mendengar Hyuk Jae oppa
berkata seperti itu. Dia melepasku.
“Gomawo…”
kusunggingkan senyum untuknya, senyum tulus dari hatiku yang terdalam.
Kulangkahkan kembali kakiku.
“Kyu Chi..”
“Ne oppa?”
“Aku akan
mengantarmu.” Ujarnya pelan dan dengan sigap menyuruhku masuk kedalam mobilnya.
Aku kembali
terkejut atas perlakuannya. “Gomawo.” Ucapku lagi.
***
Mobil itu
tepat berhenti disebuah jalan yang sepi. Biasanya tak banyak kendaraan dan
orang yang lalu lalang disini. Kuedarkan pandanganku dan tak menangkap sesosok
pun yang berada disini.
“Cepatlah
turun.” Perintahnya. Kulihat sebuah ketulusan diwajah Hyuk Jae oppa. Sekali
lagi aku membungkuk dan terus mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Jeongmal
Kamsahamnida oppa.” Dia hanya tersenyum melihat tingkahku seperti itu. Aku
lega, mungkin itu yang terbaikuntuk kami.
Aku turun
dan melihat mobil itu segera meninggalkanku jauh dan semakin jauh.
“Kau pasti
akan mendapatkan yang lebih baik dariku oppa.” Ujarku lirih.
Aku kembali
terfokus pada daerah ini. Semuanya masih sama seperti tahun-tahun lalu ketika
aku selalu disini. Tahun inipun aku masih menunggunya, sudah lima kali.
Kuedarkan sekali lagi kesemua penjuru tempat yang yang dapat dijangkau mataku.
DEG!
Jantungku
berdebar, kulihat sosok itu. Namja yang duduk di pinggir trotoar tepat
diseberang tempatku berdiri. Aku menyipitkan mataku, memastikan bahwa itu dia.
Aku mulai
berjalan menghampirinya, pelan. Dia tak menyadari kehadiranku. Wajahnya terus
menunduk melihat hamparan putih yang menutupi jalan.
Semakin
mendekat. Aku terus memperhatikan sosok itu. Kulihat wajahnya tak banyak
berubah. Lima tahun adalah cukup aku tak bertemu dengannya. Butiran air mata
terus menetas dari mataku. Apakah aku bermimpi? Melihat wajah kyeopta itu lagi.
Aku berdiri
disampingnya. Ingin segera kurengkuh badan itu. Dia masih tak menyadari kehadiranku.
Dia masih menunduk melamun. Apa yang terjadi padamu Henry?
“Henry…” Aku
mengucapkan nama itu. Bibirku bergetar ketika mengatakannya. Dia tampak
terkejut dan langsung melihat kearahku.
“Kyu Chi…”
Dia
menatapku hangat. Tatapan itu, aku sangat merindukannya. Aku semakin
mendekatinya.
“PLAAKK…”
Kutampar pipi putih mulus itu. Tampak terlihat sedikit bekas merah. Dia
terkejut dan menatapku heran.
“Itu
hukumanmu karena kau sudah empat kali tidak menepati janji.” Ujarku. Aku duduk
tepat disampingnya. Segera kurengkuh badan itu. Kupeluk dia erat, sangat erat
dan kuciumi pundaknya. Air mata terus menetes dan membasahi pipiku.
“Aku
merindukanmu…” ucapku tepat ditelinganya. Henry masih diam. Kurasakan dia juga
mulai membalas pelukanku. Tak lama dia melepasnya.
“Kyu Chi…
apakah ini benar-benar kau?” tanyanya sedikit parau. Aku mengernyitkan dahiku.
Heran.
“Ya! Kau
masih saja bodoh henry. Apakah kau benar-benar sudah melupakan yeojachingumu?”
“Aniyo. Aku
hanya tidak percaya bahwa kau masih mengingatku.” Aku masih menatapnya, heran
“PLAAKK…”
Kutampar sekali lagi pipinya. Kali ini benar-benar membuat bekas merah dikulit
pipnya yang putih.
“Itu semua
untuk penderitaanku selama lima tahun ini karena menunggumu...” Henry terus
menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mianhe…”
ucapnya lirih. Kembali dia menarikku tubuhku dan memelukku. Kami terdiam
seperti itu, membiarkan hati kami yang berbicara. Aku terus menangis, menangis
karena akhirnya aku bertemu lagi dengannya. Menangis karena Henry masih
mengingatku dan menepati janjinya kali ini.
“Don’t Cry
baby…” ucapnya menghapus air mataku.
“Kau kemana
saja selama ini? kenapa kau tak bisa dihubungi sama sekali? Kenapa kau tak
pernah datang kesini dan menepati janjimu, eoh?” Tanyaku bertubi-tubi. “Ppabo
henry, kau tahu aku begitu lelah menunggumu?” aku mulai memukul mukuli badannya
dengan tanganku. Kuluapkan rasa amarahku padanya.
“Sorry, I’m
so sorry…” Ucapnya. Kudengar suaranya masih seperti dulu, lembut.
“Tak apa,
aku sudah memaafkanmu, aku juga sudah menghukummu Henry.” Kusunggingkan senyum
disudut bibirku. Henry mendekatkan wajahnya diwajahku. Kuraskan tangannya
memegang daguku, memaksaku sedikit mendongak keatas. Aku menutup mataku,
merasakan deru nafasnya yang panjang dan hangat.Chu~ Kurasa bibir kami sudah
menempel. Dia menggerakkan bibirnya, sedikit melumat bibirku dengan lembut. Aku
hanya diam tidak bereaksi, menerima dengan pasrah perlakuannya.
“Sejujurnya,
aku tidak bermaksud melanggar janji itu. Ada sesuatu yang terjadi padaku.” Dia
mulai bercerita, memintaku untuk mendengar penjelasan darinya.
“Apa?”
Dia masih
diam, matanya mulai kembali berkaca-kaca. Dia memegang tanganku erat, seolah
tak ingin kami berpisah lagi. “Aku tidak bisa berjalan.” Ucapnya lirih.
“Itu tidak
masuk akal Henry.” Sahutku. Aku mulai terfokus pada kedua kakinya. Tak ada hal
yang aneh dengan kakinya. Hanya saja, memang sedari tadi henry hanya diam,
tidak menggerakkan sama sekali kakinya.
“Kau
berbohong kan? Bagaimana mungkin kau bisa sampai disini jika kau tidak bisa berjalan?”
tanyaku tidak percaya. Dia menggeleng kepalanya pelan. “Aku datang bersama
kakak ku tadi. Aku menyuruhnya untuk pergi, aku hanya ingin mengenang
kenanganku bersamamu. Aku kira kau tak datang Kyu Chi, aku kira kau sudah
melupakanku. Lima tahun sudah berlalu dan aku masih tidak percaya bahwa kau
masih menungguku. Masih datang ketempat ini.” Jelasnya panjang lebar. Aku
menangkap sesuatu yang tadi tidak kusadari berada disamping henry. Benda itu,
tongkat yang membantunya berjalan.
“Henry…
Bagaimana..bagaimana ini bisa tejadi?” aku tidak bisa menahan tangisanku keluar.
Aku tidak ingin mempercayai ini. Kenapa ini terjadi padamu henry?
“Tepat empat
tahun lalu, saat aku akan berangkat ke bandara dan pergi ke korea untuk
menemuimu. Aku terlibat kecelakaan cukup besar. Aku tidak terlalu mengingat
itu, yang kutahu saat aku sadar aku sudah mendapati diriku yang sudah koma
selama dua bulan.” Dia kembali memulai cerita.”Saat itu aku juga tahu bahwa semua
badanku tak bisa digerakkan. Aku menderita cacat fisik Kyu Chi…” aku
membelalakkan mataku tak percaya, begitu dalam luka yang Henry dapat selama
ini.
“Aku sudah
berusaha keras untuk menjalani pengobatan dan terapi agar bisa sembuh. Akhirnya
semuanya telah kembali menjadi normal, kecuali kakiku.” Lanjutnya bercerita.
“Aku sudah sangat berusaha selama empat tahun ini untuk bisa berjalan kembali.
Tapi itu tidak mudah, aku tetap tidak bisa berjalan.”
“Aku tidak
pernah kembali ke korea semenjak saat itu. Aku malu jika bertemu denganmu, aku
takut kau tak bisa menerima keadaanku…” Aku menatapnya penuh rasa kecewa.
Kecewa karena selama ini dia tidak memberitahu keadaannya padaku. Aku memegang
dan mengelus pipinya yang masih menampakkan warna merah karena tamparanku tadi.
“Kau tak
usah malu dan takut. I’ll be with you… Apapun
yang terjadi.” Ucapku tegas dan mantap. Dia tersenyum tipis dan semakin
menggenggam erat tanganku.
“Thank you…”
“Kau pasti
bisa berjalan kembali. Percayalah.” Dia mengangguk pelan. Kami terdiam,
mengembara dengan pikiran masing-masing.
“Kau melupakan
satu hal.” Ucapku memulai pembicaraan.
“Apa?”
“Ulang
tahunku.” Kulihat dia menepuk jidatnya. Aku mengerucutkan bibirku dan tertawa
sendiri melihat tingkahnya yang kebingungan seperti itu.
“Sebenarnya
aku ingat. Hanya saja tadi itu tebawa suasana jadi aku lupa.” Ujarnya mencari
alasan.
“Ehm aku
akan mengucapkannya sekarang. Saengil Chukkaehamnida, saengil chukkahamnida,
saengil Chukkahamnida naui sarang. Happy birthday for you my baby.” Aku tertawa
melihat tingkahnya yang lucu saat menyanyikan itu.
“Bisa
diterima.” Kataku ketus.”Kau juga melupakan satu hal, dulu kau berjanji untuk
memainkan lagu winter birthday didepanku dengan violinmu itu.”
“Aku tidak
membawa violin.” Katanya jujur. Dia mengeluarkan ponselnya, menekan tuts keypad
dan menunggu seseorang mengangkat teleponnya.
“Untuk apa?”
Tanyaku bingung.
“Aku
menelepon kakak ku. Akan kusuruh dia kesini dan membawakanku violin.” Aku
segera mengambil ponsel ditangan henry dan mematikannya. Dia terlihat bingung
dengan tingkah lakuku.
“Ya! Kyu Chi
apa yang kau lakukan?” Tanyanya heran, dia menaikkan nada bicaranya. Aku hanya
menjawabnya dengan senyuman polosku.
“Aku hanya
ingin berdua denganmu sekarang. Aku tidak akan membiarkan kakakmu itu datang
mengganggu kita.” Kataku. Kusenderkan kepalaku dipundaknya, terasa nyaman.
“Bukankah
kau ingin aku memainkan lagu winter birthday dengan violinku?” Tanya Henry.
Aku
menggeleng pelan. “Itu tak perlu. Hanya ada kau sekarang pun aku senang. Aku
sangat bahagia bisa bersamamu kembali.” Lirihku pelan.
Kami menikmati
itu, kebersamaan kami yang dulu hilang dengan ditemani hamparan putih yang
tampak sangat indah bagiku. Ini musim dingin sekaligus hari ulang tahun
terindah bagiku.
-END-
Huwaa, akhirnya aku bisa publish juga ff
ini. ini khusus untuk eommaku tercinta, Uchie *not real*. Mianhe jika tak
sesuai harapan, maklum diriku tidak mahir membuat kata-kata yang membuat ff
jadi bagus. Mianhe kalo geje dan sangat aneh XP *BOW 90 DRAJAT
Maaf juga karena membuatmu menunggu lama,
kalo itu salahkan modem yang tak berpulsa(?) *kebanyakan minta maaf XD
Untuk readers yang sengaja baca atau Cuma
ikutan lewat. Dimohon meninggalkan jejak dengan memberikan comment. Yang gak
mau ditag, feel free to remove. Pokoknya jangan jadi silent reader deh, itu
sangat tidak menghargai author yang udah cape mikir dan ngetik. Pokoknya yang
jadi silent reader gue kawinin biasnya… hahaha *ketawa bareng umin*
KAMSAHAMNIDA J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar