Title/ Author : Storm and Spring
/ Shena En (@SNistriHyukJae or http://facebook.com/iamhansoorim)
Cast : Lee
Hyukjae, Lee Donghae, Jang Song Hwa
Genre :
Romantic-angst
Rating/Type : PG (aman hohoho)/Oneshot
Disclaimer : Eunhyuk
sama Donghae milik Tuhan, theirself, Super Junior, ELF, Jewels, sama Fishy.
Tapi FF-nya punya author eh Eunhyuk juga
deh.
A/N : Please leave your comment. Your
participation will
help me. Please don’t bashing it
if you dislike this story or pairing of this FF ^^v. I know this story is ABAL.
But, DON’T COPY this story without PERMISSION. You can copy it
but write MY NAME there^^. Yoroshiku onegaishimasu to Happy
reading!!^^
______________________________________________________________________
Without you, I have no courage to live.
Even one day, one minute, one second. This can’t be, how can I let you go?
–FIX, Please Don’t Say—
Pria itu duduk tertunduk dengan
telapak tangan tertumpu di lutut. Tubuh itu bergetar, dua belah bibir pucatnya
dikatupkan meredam isak. Helaian cokelat menyembunyikan wajah sendunya. Sudah
hampir dua jam ia tak berkutik barang menukar posisi. Sesekali tetes bening
jatuh menerpa lantai putih berloreng kelabu pucat, tempat kaki itu tertapak. Ia
menangis.
Pelan, langkah kaki terseok terdengar
mendekat. Deru nafas sosok itu pun tak mampu membuatnya berhenti bergeming.
Tangkupan telapak tangan di bahu juga tak berhasil membuatnya mengangkat wajah
sekedar menyambut kedatangan sosok itu.
“Waegurae?” Agak berbisik suara itu
tersampaikan. Pura-pura ia tak dengar.
“Bukankah sudah kukatakan agar terus
menjaganya?” Lagi, sosok itu bersua. Agaknya naik satu oktaf dari suara
sebelumnya.
“Mianheyo.” Jawaban akhirnya
terlontar. Suaranya lirih.
“Any
word can you say, expect it?” Tagih sosok itu. Pria itu kembali tenggelam
dalam diam. Tak tahu kalimat apa yang harus tersampaikan.
Sosok itu mengambil tempat
disampingnya, diam. Hanya ketukan vantofel yang sesekali mengusik atmosfer
senyap di antara keduanya.
“Ia tak pernah bisa diterpa dingin
terlalu lama, bukankah kau tahu hal itu?” sosok itu kembali membuka suara. Pria
itu hanya membalas dengan anggukan.
“Lalu mengapa kau mebiarkannya
seperti itu, huh?” satu kepalan mendarat di pipi pria itu, tak ada respon
selain rintihannya.
“Jeongmal mianhe, Donghae-ya.”
***
I will love you until always, more than
anyone in this world… –Sistar’s Hyorin, I Choose To Love You—
Lengkung manis terlukis di wajah
gadis itu. Sederet kalimat manis singgah rapi di depan pintu lokernya.
Dirogohnya kantong rok berpetak hijaunya. Empat lembar kertas lainnya ditilik
dan lengkungnya kembali terlukis.
“Apa ini?” Sebuah tangan
merenggutnya.
“Every
time, our eyes meet each other. Nothing special before, but something grew in
my heart and being a big problem that I can’t found the solution, apa ini?”
Gadis itu bersandar di depan
lokernya. “Aku temukan itu di laci meja. So
sweet, right?” kadar senyumnya tak berkurang.
Orang itu membuka lembar
selanjutnya. “I tried to ignore it, but
it forced me to find its mean.”
“Itu di buku matematika yang
tertinggal di laci kemarin.”
“Buku matematika? Bukannya akan
lebih manis di dalam diary?”
“Untuk apa membawa diary ke sekolah,
eoh?”
“Wanita itu suka curhat di mana
saja, bukan?” Satu cubitan memuatnya meringis pelan. Ia lanjutkan membuka
lembar selanjutnya.
“It’s
OK, I give up and follow what my heart want me to do.” Dilihat lembar
selanjutnya.
“And
then I know what that is, but I still didn’t know what I should do.”
“Thinking
hard, trying hard and then I doing this fool thing. Love always makes us doing
foolish things, isn’t it? Melankolis sekali.”
Gadis itu tertawa kecil. “Bukan
melankolis, tapi romantis.”
“Aku bisa melakukan seratus kali
lebih romantis dibanding ini pada gadis yang aku cintai.”
“Beruntung sekali gadis itu.” Gadis
itu kembali tertawa, lebih keras. Orang itu hanya menggerutu.
Orang itu melihat arlojinya. Pukul
empat sore. “Song Hwa-ya, kau mau mencari lanjutan kalimat-kalimat ini atau
pulang denganku?”
Gadis itu, Song Hwa menjawab sambil
mengemas tas-nya. “Kau duluan saja. Aku mau memberikan laporan kegiatan klub
pada Hyukjae dan sepertinya akan ada diskusi kecil.”
“Kau tak apa pulang sendiri?” Orang
itu terlihat khawatir.
“Gwenchana, aku akan minta antar
Hyukjae karena rapat mendadak ini adalah salahnya. Kalau terjadi sesuatu padaku
maka itu menjadi tanggung jawabnya.”
“Kau mengancamnya?”
“Sedikit.” Song Hwa menjawab sambil
tertawa kecil dan diikuti tawa orang itu.
Cukup lama mereka berbincang dan
akhirnya orang itu menutup pembicaraan. “Sudah sana temui ketua klub-mu yang
bodoh itu. Aku pulang dulu.”
“Okay.
Bye, Donghae-ya!”
Orang itu, Donghae hanya melambaikan
tangan sambil terus berjalan.
Song Hwa menelusuri koridor sekolah
yang sudah agak sepi. Hanya ada murid yang sedang melakukan kegiatan klub atau
mengerjakan tugas kelompok. Ia memasuki ruangan klubnya. Dilihat pantulan
dirinya di depan cermin. Sepi. Bukankah seharusnya ruangan ini ramai karena
akan ada rapat? Ia letakkan tasnya di lantai dan ia dikejutkan dengan padamnya
lampu. Ia berteriak keras sebelum akhirnya menemukan cahaya di depan cermin
yang membentuk kalimat Don’t be afraid. Tapi
tetap saja ketakutan menjalar di tubuhnya.
“I’m
here now and I will hug you tight.” Song Hwa terpaku. Dirasakan sentuhan
hangat terasa di lengannya, hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak sedikitpun
takut muncul. Aneh, ia merasakan nyaman.
“I
love you.” Bisik terdengar. Ia mengenal suara itu, bahkan sangat familiar.
“Would
you be mine?”
Lampu kembali menyala. Pria itu
memeluknya erat. Tak pernah ia sangka bahwa deretan kalimat manis itu datang
dari pria tersebut. Ia diam, masih belum percaya.
“Song Hwa-ya, kau keberatan?” Tanya
pria tersebut. Gadis itu menggeleng.
“Then,
may I know your answer?”
“The
answer is y…yes.”
Pria itu memutar tubuh Song Hwa dan
menatapnya. Kecupan manis di puncak kepalanya membuat Song Hwa semakin memerah.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia bukan tidak mencintai pria
itu, tetapi ada seseorang yang membuatnya merasa ragu. Entah, hanya dia yang
tahu.
Mereka duduk berdampingan, agaknya
canggung. Sudah hampir lima menit berlalu dan tak sepatah katapun terdengar di
antara keduanya. “Ehm.” Pria itu berdehem. “Sudah sore. Ingin pulang bersama?”
Pria itu bangkit dan mengulurkan tangannya.
Song Hwa meraihnya dan ikut bangkit.
“Bukankah akan ada rapat? Aku sudah
selesaikan laporannya.”
Pria itu tertawa kecil, sedangkan
Song Hwa menatapnya penuh tanya. “Kau kira aku serius? Sejak kapan klub kita
membuat laoran kegiatan, eoh?”
“L….lalu?”
“Aku berbohong. Hehehe” Pria itu
malah berkata bodoh sambil menggaruk kepalanya. Pukulan tak terhitung menerpa
lengannya.
“Hyukjae-ya! Pabbo!” Keluhnya sambil
terus meluncurkan pukulan pelan.
“See,
yang bodoh itu kau.” Pria itu, Hyukjae menjulurkan lidahnya sambil meringis
kesakitan.
“Nappeun nom!”
Hyukjae menggenggam tangan Song Hwa
dan menatapnya dalam. “It’s hurt. So,
stop it or I’ll kiss you right now.” Hyukjae menyeringai, sementara gadis
itu menepis tangannya. Dengan langkah cepat ia meraih tasnya dan keluar dari
ruangan klub. Hyukjae mengejar dan menarik tangannya.
“Aku hanya bercanda. Jangan menjadi
pemarah, nanti kau akan seperti eomma-ku.” Ucapnya.
“Mwoya? Aku akan mengatakan ini pada
Lee ajumma.”
“Ya, hajima. Kau ingin kekasihmu dilempar
sepatu oleh eomma-nya?”
“Pasti akan menarik.” Song Hwa
terkekeh.
“Kau ingin aku sungguh-sungguh
menciummu?”
Song Hwa berlari menghindari Hyukjae
sambil tertawa riang. Seperti inikah harusnya cinta yang ia rasakan? Mengapa
semanis ini?
***
I want to hate you. But, seeing you so happy
next to another person. Is exhausting, now not knowing anything. I tried to
erase you. But it wasn’t something I could have. –Super Junior, Hate U Love U—
“I
got her.” Suara dari seberang sana terdengar begitu bahagia.
“Jinjja? Beritahu aku, siapa wanita
bodoh yang mau menerimamu?” Aku terkekeh mengoloknya.
“Apa maksudmu, eoh?” mendengar
jawaban itu aku tawaku pecah.
“Ya, sikkeureo! Jang Song Hwa.”
“Ne?” Tawaku tiba-tiba tercekat.
“Geu yeoja, Jang Song Hwa.” Aku
terpaku. Diam, entah harus mengatakan apa.
“Donghae-ya? Kau masih disana? Kau
tidak meninggalkanku dan ke toilet kan?”
“E…eoh? Song Hwa yang itu?”
“Iya, Song Hwa yang itu.”
“Ahahaha, chukkae ne!”
Kami berbincang lama. Ia, Hyukjae
yang lebih sering bertanya, sedangkan aku hanya menjawab sekenanya.
Kalimat-kalimat guyon yang biasa terlontar kala bicara dengan Hyukjae tertelan
begitu saja. Aku tak pernah sekecewa ini.
“Kalau begitu sudah, ya. Sepertinya
hari ini kau sedang tidak bersemangat.”
“Hem, laporan kegiatan klub-ku belum
kuselesaikan.” Aku berkata asal.
“Jaman sekarang mana ada yang mau
berpusing-pusing dengan klub biologi, huh?” dan seketika itu sambungan telepon
dari Hyukjae terputus.
Kubanting tubuhku di atas kasur.
Kulirik foto di atas meja, kuraih. Saat itu SMP, aku dan Song Hwa berhasil
membawa pulang medali emas dance
competition. Aku tetawa hambar. Getir rasanya.
“Harusnya aku ikut klub dance, bukan
biologi.” Gumamku tak guna. Ah, mengapa sesal tak bisa memutar waktu?
Jang Song Hwa, finally you got it. Cinta yang selama ini kau cari dan kau
angankan. Apa yang kau lakukan adalah yang terbaik. Apalah guna menunggu sebuah
ketidakpastian. Hidup ini butuh suatu ketepatan. Jika terlambat sedikit saja,
semua aka lenyap. Kini, aku tahu bahwa kepercayaan seseorang ada batasnya.
Mianheyo. Bolehkah aku menyayangimu tanpa ada satu orang pun yang tahu?
***
“Song
Hwa-ya. Kalau aku sudah dewasa nanti, apa aku boleh memilikimu?” suara kecil itu
terdengar ragu. “Tentu saja, tapi jadilah
dancer yang hebat dulu supaya kita bisa menari bersama.” Donghae kecil
mengangguk mantap membalas suara mungil tersebut. “yaksokhae?” “Ne, yaksokhae.”
Jari mereka saling tertaut. Senyum terlukis di wajah mungil keduanya. Donghae
dan Song Hwa dua belas tahun lalu, masih mengenakan seragam warna-warni taman
kanak-kanak.
Lengkung getir kulukis. Mungkin saatnya
untuk menghapus semuanya. Bukankah kau tidak ingin menjadi yang kumau? Ini
bukan tentang egois, tapi suatu kepastian. Kukagumi kesungguhanmu mengejar
inginku, dancer. Tapi, akhirnya aku
tahu kalau kau sudah menyerah tentang semua itu. Hatimu tak lagi untukku,
bukan? Mungkin saja kau ingin mendapatkan seorang kutu buku dari klub biologi,
bukan wanita childish yang hanya bisa
mengimbangi gerakan tarianmu.
Kuhela nafas perlahan, mencoba
mengemas kenangan itu dalam kotak kecil di benakku. Semua sudah berlalu,
mengapa aku tak membuka hatiku untuk orang lain? Harusnya aku tahu, mengapa Lee
Donghae mengikuti klub biologi. Harusnya aku tahu kalau Donghae sudah tidak
memiliki perasaan seperti dulu lagi terhadapku. Kenapa aku bersikukuh
menunggunya kembali menari? Sungguh bodoh. Harusnya dengan semua itu aku tahu
kalau Donghae ingkar.
“Hot
Times naega neoreul nunddeulttae all
my life time ojik neoman gajyeododwae nal heundeul go shiryeonjwodo in
jeonghal subakke eomneun geol neon hanappun in nae saram~”
“Donghae?” kusentuh layar ponsel dan
kujawab dengan sepatah kata “yeoboseyo?” dan suara berat terdengar.
“Song Hwa-ya, apa aku mengganggumu?”
aku merasaka atmosfer aneh dari getar suaranya.
“Aniyo, waegeurae?”
“Eum, chukka ne. Sangat senang
mendengar kedua sahabatku berpacaran. Haha, aku sungguh tidak menyangka.”
Suaranya terdengar bahagia, harusnya aku pun bahagia. Kini kepastian itu sudah
jelas. Kini, aku bernafas lega ia mendukungku. Walaupun lengkung yang kulukis
terasa hambar dan manik ini bersikeras menitikkan embunnya, aku rasa tak ada
alasan untuk menagih janji itu dan memaksanya untuk tetap memberi hatinya
untukku.
“Song Hwa-ya, kau masih disana?”
“Eoh, ne gomawoyo.” Aku tertawa
sedikit.
“Sejauh mana kau mengenal Hyukjae?”
“Hyukjae? Ia ketua klub dance dan
tariannya begitu bagus. Terkadang wajahnya terlalu bodoh untuk dipikirkan,
tetapi saat dia menari wajahnya begitu cool. Selalu dipuji fans tetapi selalu
dimarahi oleh guru di sekolah. Hahaha.”
“Hanya itu? Bagaimana dengan tanggal
lahirnya?”
“Eum yang kudengar ia lahir pada
bulan April, tapi aku tak tahu tanggal berapa.”
“Masa kau tidak tahu tanggal berapa?
Ia lahir tanggal 4 April, tingginya sekitar 175 cm dan beratnya sekitar 57 kg. golongan
darahnya O. kau pernah mendengar rap-nya? Bagiku itu terdengar sangat centil
hahaha. Ia juga berbakat menjadi seorang MC dan apalgi ya?”
“D… Donghae-ya.”
“Ne?”
“A… aniyo, gwenchana. Eum, bagaimana
dengan wanita di klub biologi? Pasti kau mengincar salah satu dari mereka,
kan?”
“Mwo? Aku tidak masuk klub biologi
dengan alasan itu, pabbo.”
“Ya! Aku tidak bodoh. Ayolah mengaku
saja. Siapa? Eunjung? Hayoung? So Eun?”
“Rahasia!” sambungan telepon ia
putus. Entahlah, cara bicaranya aneh. Humornya bahkan terasa hambar, aku tak
merasakan kelucuannya.
4 April akan menjadi musim semi yang
berbeda. Masih dua bulan lagi menuju April. Musim dingin akan berakhir dan
musim semi akan dimulai bulan Maret. Beruntung sekali Hyukjae lahir pada bulan
itu.
***
Pagi telah menyembunyikan malam.
Udara dingin masih menyelimuti kota Seoul. Song Hwa merapatkan jas musim
dinginnya. Dihapus embun yang dibuat salju di kaca bus. Putih, semua putih.
Begitu seterusnya bahkan sampai gedung sekolahnya.
Sudah dua minggu berlalu. Selayaknya
pagi sebelumnya yang selalu manis. Setangkai bunga selalu tertempel di depan
lokernya. Pemberi yang sama setiap harinya. Sepagi apapun ia datang, bunga itu
siap singgah di sana, menunggu sang penerima datang.
Lembut, alunan gitar dipetik.
Ditolehnya arah belakang, pemilik 175 cm itu berdiri di sana sambil memetik
gitarnya. Perlahan suara lembutnya terdengar. “Jogeum deo gakkai
sarang neowa naega jigeum idaero hangsang neoreul jikyeojoolge, Ddaeroneun
jichyeoseo apeugo himdeulmyeon geujeo neon gidaemyeon dwae, Yeongweonhi happy together.”
Song Hwa mengadu kedua telapak
tangannya sambil tertawa. “Great!”
“Kau hanya memberi tepuk tangan? Kau
harus membayarnya.”
“Membayar?”
Hyukjae mengangguk lalu mencium
pipinya sekilas. “Dengan itu.”
“Aku akan memanggil Donghae untuk
melakukan itu. Hahaha.”
“Ya!”
Mereka berkejaran lagi. Hubungan
mereka terlihat lebih baik. Entah pagi, siang ataupun sore, Hyukjae selalu
melakukan hal yang membuat Song Hwa tak henti tersenyum. Agaknya Song Hwa sudah
mulai luluh. Hatinya sudah sepenuhnya menerima Hyukjae.
“Nanti malam aku akan ke rumahmu.
Aku ingin pinjam catatan kemarin.” Ucap Hyukjae.
“Kau
tidak mencatat lagi, huh? Jangan malas!”
“Aku hanya tertinggal satu paragraf.
Aku mencatatnya, kok. Sungguh.”
“Arasseo, jangan datang di atas
pukul sembilan atau aku tidak akan membukakan pintu.”
“Ne, aratta.”
***
Aku masih menunggu Song Hwa membuka
pintu rumahnya. Tak sengaja kutemukan sebuah box di depan tempat sampah. Box
tersebut sudah kusam. Jiwa penasaranku memaksaku untuk membuka isinya, sebuah
buku diary. Aku terpaku setelah mengetahui semua. Donghae dan Song Hwa…
“Kau menunggu lama?” aku menatap
sumber suara itu. Ia merebut kasar buku yang kupegang.
“Kelihatannya tukang sampah
meninggalkannya. Harusnya ini sudah di bawa tadi pagi.” Ucapannya terdengar
panik.
“Song Hwa, kau dan Donghae…”
“Oppa, ini catatan yang kau minta.
Dijamin semua lengkap hehe. Ah, Ramyeon-ku! kau ingin pulang atau menuggu? Aku
hanya memasak satu. Sebentar, ya.” Aku meraih tangannya.
“Biarkan aku membawa buku itu juga.”
Ia menatapku.
“Aku mohon.” Ia menyerahkannya.
“k… keundae, untuk apa? Semua itu
masa laluku.”
“Jangan pikirkan aku. Sudah sana,
Ramyeon-mu akan rusak nanti. Aku pulang dulu.” Kulangkahkan kakiku menjauhi
rumah Song Hwa. Aku tak menyangka kalau Song Hwa dan Donghae saling mencintai.
Langkah kupacu semakin cepat hingga
pagar putih itu kutemui. Sosok itu muncul di depan pintu usai aku memencet bel.
Ia mempersilahkanku masuk dan memberi segelas air padaku. “Ada apa?” Tanyanya.
Aku mengambil nafas dalam. “Kau
kenal buku ini?” ia meraihnya.
“Ini milik Song Hwa, bukan?” aku tak
menjawab.
“Seberapa jauh kau mengenal Song
Hwa?” ia tertunduk sampai akhirnya menjawab.
“Sangat sulit menungkapkan semua
tentangnya. Terlalu banyak hal yang tak dapat aku ungkapkan. Secara
keseluruhan, Ia gadis yang ceria, pintar dance dan ia sahabatku sejak kecil.”
Aku terus menunggu sampai ia mengungkapkan semua. Ia menatapku sekilas.
“Ia juga suka bernyanyi. Ia membenci
musim dingin tetapi menyukai musim semi. Ia benci musim dingin karena tak bisa
menikmatinya. Ia tidak bisa diterpa suhu rendah. Ia juga…”
“Menyukaimu?” Potongku cepat. Ia
menatapku agak terkejut.
“Hyukjae-ya, aku…”
“Aku tahu dan agaknya aku salah
langkah. Tak seharusnya aku berpacaran dengannya dan menghancurkan perasaan
kalian.”
“Ia menerimamu, itu berarti dia
sudah melupakanku, bukan?”
“Awalnya kupikir begitu, tetapi
setelah membaca seluruhnya aku akhirnya tahu semuanya. Mianhe.”
“Untuk apa? ia begitu mencintaimu
sekarang, bukankah begitu? Aku yakin kau menemukan ini di tempat sampah.
Tintanya agak luntur, pasti sudah ditimpa salju berkali-kali.” Aku diam sampai
akhirnya ia menatapku.
“Hyukjae-ya, Song Hwa begitu
menyayangimu. Aku mohon, jaga ia untukku.” Kutarik senyumku.
“Pasti. Terimakasih sudah
merelakannya untukku.” Ia pun tersenyum. Ia sahabat terbaikku.
***
Februari hampir berakhir. Musim
dingin pun begitu. Tak terasa tiga minggu sudah semua berjalan, Song Hwa dan
Hyukjae. Kegiatan klub tidak lagi aktif. Saat-saat seperti ini, perpustakaanlah
yang justru penuh siswa. Mereka bekerja keras agar dapat meneruskan ke
universitas impian mereka.
Tumpukan buku bahasa inggris
terbangun sempurna di depan Hyukjae. Song Hwa menghentikan langkahnya di dekat
Hyukjae dan mengambil tempat tepat di sampingnya. “Kau ingin mengambil sastra
inggris, eoh?”
Hyukjae tak berpaling dari bukunya,
pemandangan yang baru kali ini Song Hwa melihatnya. “Bukan, aku akan mengambil
seni di Amerika.”
“Amerika?”
Hyukjae berhenti sejenak dan
memandang wajah sendu kekasihnya itu. “Maaf aku baru memberitahumu.” Ucapnya
penuh sesal.
“Itu berarti saat ulangtahun kau tak
di sini?”
“Kemungkinan seperti itu. Mianhe.”
“Mengapa tidak kuliah di sini saja
denganku?”
“Aku ingin menjadi lebih hebat dari
sebelumnya, saat pulang nanti aku akan membuatmu bahagia dan terpana, kau
mengerti maksudku, bukan? Hahaha.”
Song Hwa meninggalkan Hyukjae. Tak
seperti dalam drama, Hyukjae bergeming memandang punggung Song Hwa yang
menjauh.
Song Hwa terus memicu langkah sampai
akhirnya menabrak Donghae dan menjatuhkan buku-buku yang dibawanya.
“Mianhe, Donghae-ya.”
“Gwenchana, kau terlihat tergesa.”
Ucap Donghae sambil merapikan bukunya. Song Hwa ikut membantunya.
“Bukan tergesa, tetapi kesal.”
Donghae kembali berdiri, disusul Song Hwa. Mereka melangkah bersama.
“Wae? Apa Hyukjae genit dengan
wanita lain?”
“Aniyo, ia akan pergi ke Amerika dan
kemungkinan ia tak di sini saat hari ulangtahunnya.”
“Biarkan saja, ia kan akan sukses.”
“Bukan begitu, aku tidak bisa long
distance.”
***
Esok paginya, bunga tersebut kembali
singgah di depan loker Song Hwa. Senyum kembali terlukis di wajahnya. Sejurus
kemudian ia rasakan sentuhan hangat itu, disusul dengan kata maaf yang begitu
dalam. “Pergilah, aku akan mendukungmu.” Ucapnya lembut pada Hyukjae, pemilik
sentuhan hangat itu.
“Eoh, Donghae-ya! Kau akan ada
praktek hari ini? Mau kubantu bawakan? Kau terlihat kesulitan.” Song Hwa
menghampiri Donghae dan Donghae menatap Hyukjae bingung.
“Ah, an.. aniyo.” Tolaknya namun
Song Hwa berikeras membantunya. Sementara Hyukjae, ia hanya menatap mereka dari
kejauhan.
***
Sudah tiga hari ini Song Hwa
bersikap aneh. Ia terlihat begitu dekat dengan Donghae. Its okay, because they’re friendship, tetapi entah mengapa aku
menjadi semarah ini. Ia selalu meninggalkanku ketika bertemu Donghae.
Bagaimanapun mereka pernah merasakan perasaan yang sama, aku takut jika aku
pergi nanti, ia akan kembali kepada cinta pertamanya, Donghae. Aku sudah
berusaha mendiamkannya dan menunjukkan kemarahanku, tetapi semakin aku marah ia
semakin dekat dengan Donghae.
Ponselku bergetar dan kuterima pesan
masuk dari Song Hwa. “Oppa, buku
catatanku kemarin belum kau kembalikan bukan? Donghae mau meminjamnya, bisa kau
bawakan untukku? Aku akan menunggumu di taman bermain. Di rumahku sedang ada
tamu, jadi tolong jangan datang ke rumahku.”
Ah, masa bodoh. Ia harus tahu kalau
aku marah padanya. Lagipula, yang butuh itu Donghae, mengapa harus aku yang
mengantarkannya? Biar saja catatan itu menjadi kenang-kenangan saat aku pergi
ke Amerika besok.
Kumakan ramyeon yang baru saja
matang. Saat suasana dingin seperti ini sangat enak memakah sesuatu yang
hangat. Hangat? Song Hwa akan kedinginan menungguku. Ah, ia pasti akan kembali
ke rumah jika bosan menunggu, aku juga tak menjawabnya dan mungkin ia mengerti
kalau aku tidak akan datang.
***
Sudah hampir satu jam gadis itu
menunggu sambil membawa dua buah kotak berwarna putih dan merah. Satu persatu
pengunjung taman bermain pergi. hanya ia yang sejak tadi tidak berpindah, tetap
duduk di salah satu sisi ayunan. Ia tatap lagi arlojinya.
“Oppa, apa kau tidak akan datang?”
ia bermonolog, nadanya terdengar bosan.
“Ah, pasti kau terjebak macet.
Tenang oppa, aku akan menunggu di sini.” Lanjutnya sambil memasukkan tangan
bersarungnya ke dalam jas musim dinginnya.
Sementara di tempat lain, Hyukjae
yang baru saja menyantap ramyeon-nya sedang serius berperang dengan
playstation-nya, tak menyadari seorang gadis cantik dengan setia menunggu kedatangannya.
Ia pandangi ponselnya dan jarinya menyentuh layar-nya, bermaksud mengirim
pesan.
“Jika
ingin pinjam catatan, datang saja ke rumahku sendiri, dan katakan pada Song Hwa
kalau kau sudah mengambilnya. Aku malas keluar hari ini. Ada game yang sedang
aku selesaikan.” Dan terkirim pada sang penerima, Donghae. Tak berapa lama,
sebuah pesan balasan masuk ke ponselnya.
“Catatan
apa? Aku tak berkata apa-apa pada Song Hwa. Bukankah seharusnya kau ke taman
bermain? Ia akan menunggumu, bodoh! Kau tidak mau merayakan ulangtahun
dengannya?” Hyukjae terdiam sesaat dan dengan tergesa ia pakai jas musim
dinginnya. Ia tinggalkan playstation-nya tanpa dimatikan.
Hyukjae berlari, berharap tak akan
ada hal yang terjadi pada wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, terlambat
karena gadis itu terlajur jatuh. Berkali-kali ia serukan namanya, tak ada
jawaban yang terlontar.
***
“Aku
tidak bisa long distance.” Song Hwa menghembuskan nafas berat.
“Suatu
hubungan selalu punya kendala. Aku yakin Hyukjae tidak akan mengkhianatimu.”
Ucapan Donghae terdengar meyakinkan.
“Akupun
yakin kalau Hyukjae tidak playboy, tapi sangat sulit melakukan hubungan seperti
itu, aku hanya takut kepercayaanku diruntuhkan.”
“Kalau
begitu buatlah kesan yang manis sebelum ia pergi. aku yakin itu akan membuatnya
selalu ingat kalau kau sangat mencintainya. Bagaimana kalau kau merayakan
ulangtahunnya. Tapi, bukan di waktu sesungguhnya.”
“Hahaha,
ide bagus! Donghae, kau mau membantuku?”
“Tentu
saja. Apa?”
“Membuatnya
cemburu. Pasti sangat seru jika ia dikerjai terlebih dulu. Hahaha.”
“Hah?
Kau yakin?”
Song Hwa mengangguk mantap.
Tangis Hyukjae semakin keras usai semuanya
tertutur melalui perantara Donghae. Kalau saja waktu dapat berputar kembali,
akan ia hampiri gadisnya dan ia peluk dengan penuh bangga. Seharusnya ia
percaya bahwa gadisnya tidak akan mengkgianatinya. Ia bahkan rela melepas cinta
pertamanya untuk berusaha mencintainya. Ia menyesal, sangat menyesal.
Kotak merah itu di genggamnya.
Sebuah kotak musik berbentuk piano di dalamnya. Sangat indah, namun pemberinya
telah pergi jauh dan tak akan pernah dapat digapainya meski ia memiliki seribu
sayap. Hanya sesal yang terendap, mengenap di dasar hatinya.
“Jangan lupakan ia, Hyukjae-ya.”
Lirih Donghae kembali berucap.
“Terimakasih sudah menjadi sahabat
baik untuknya dan merelakannya untukku. Kalau saja kau yang berpacaran
dengannya, semua ini tidak akan terjadi.”
“Takdir memiliki semuanya yang
terbaik. Bagiku, mencintai bukanlah untuk memiliki, tetapi bersedia untuk
membuatnya bahagia. Aku tidak yakin selama ini aku telah berhasil membuatnya
bahagia.” Ucap Donghae lagi.
***
“Song
Hwa-ya, jaga dirimu baik-baik. Aku dan Donghae akan menjadi seorang dancer yang
hebat untukmu… anyeong saranga…”—Lee Hyukjae—
FINISH
Huaaaaahh,
eotte readers? Komentarnya ya hehe. Ini cuma fiksi kok, Donghae ama suami
author *re : Eunhyuk*plakk* bukan jadi dancer gara-gara ini *ELF juga tau kale*
thanks for read *cipok readers*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar