Label

Senin, 14 Mei 2012

Storm and Spring | FF Oneshot







Title/ Author      : Storm and Spring / Shena En (@SNistriHyukJae or http://facebook.com/iamhansoorim)
Cast                       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Jang Song Hwa
Genre                   : Romantic-angst
Rating/Type       : PG (aman hohoho)/Oneshot
Disclaimer           : Eunhyuk sama Donghae milik Tuhan, theirself, Super Junior, ELF, Jewels, sama Fishy. Tapi  FF-nya punya author eh Eunhyuk juga deh.
A/N                 : Please leave your comment. Your participation will
help me. Please don’t bashing it if you dislike this story or pairing of this FF ^^v. I know this story is ABAL. But, DON’T COPY this story without PERMISSION. You can copy it but write MY NAME there^^. Yoroshiku onegaishimasu to Happy reading!!^^
______________________________________________________________________

Without you, I have no courage to live. Even one day, one minute, one second. This can’t be, how can I let you go? –FIX, Please Don’t Say—

            Pria itu duduk tertunduk dengan telapak tangan tertumpu di lutut. Tubuh itu bergetar, dua belah bibir pucatnya dikatupkan meredam isak. Helaian cokelat menyembunyikan wajah sendunya. Sudah hampir dua jam ia tak berkutik barang menukar posisi. Sesekali tetes bening jatuh menerpa lantai putih berloreng kelabu pucat, tempat kaki itu tertapak. Ia menangis.
            Pelan, langkah kaki terseok terdengar mendekat. Deru nafas sosok itu pun tak mampu membuatnya berhenti bergeming. Tangkupan telapak tangan di bahu juga tak berhasil membuatnya mengangkat wajah sekedar menyambut kedatangan sosok itu.
            “Waegurae?” Agak berbisik suara itu tersampaikan. Pura-pura ia tak dengar.
            “Bukankah sudah kukatakan agar terus menjaganya?” Lagi, sosok itu bersua. Agaknya naik satu oktaf dari suara sebelumnya.
            “Mianheyo.” Jawaban akhirnya terlontar. Suaranya lirih.
            “Any word can you say, expect it?” Tagih sosok itu. Pria itu kembali tenggelam dalam diam. Tak tahu kalimat apa yang harus tersampaikan.
            Sosok itu mengambil tempat disampingnya, diam. Hanya ketukan vantofel yang sesekali mengusik atmosfer senyap di antara keduanya.
            “Ia tak pernah bisa diterpa dingin terlalu lama, bukankah kau tahu hal itu?” sosok itu kembali membuka suara. Pria itu hanya membalas dengan anggukan.
            “Lalu mengapa kau mebiarkannya seperti itu, huh?” satu kepalan mendarat di pipi pria itu, tak ada respon selain rintihannya.
            “Jeongmal mianhe, Donghae-ya.”

***
I will love you until always, more than anyone in this world… –Sistar’s Hyorin, I Choose To Love You—

            Lengkung manis terlukis di wajah gadis itu. Sederet kalimat manis singgah rapi di depan pintu lokernya. Dirogohnya kantong rok berpetak hijaunya. Empat lembar kertas lainnya ditilik dan lengkungnya kembali terlukis.
            “Apa ini?” Sebuah tangan merenggutnya.
            “Every time, our eyes meet each other. Nothing special before, but something grew in my heart and being a big problem that I can’t found the solution, apa ini?
            Gadis itu bersandar di depan lokernya. “Aku temukan itu di laci meja. So sweet, right?” kadar senyumnya tak berkurang.
            Orang itu membuka lembar selanjutnya. “I tried to ignore it, but it forced me to find its mean.
            “Itu di buku matematika yang tertinggal di laci kemarin.”
            “Buku matematika? Bukannya akan lebih manis di dalam diary?”
            “Untuk apa membawa diary ke sekolah, eoh?”
            “Wanita itu suka curhat di mana saja, bukan?” Satu cubitan memuatnya meringis pelan. Ia lanjutkan membuka lembar selanjutnya.
            “It’s OK, I give up and follow what my heart want me to do.” Dilihat lembar selanjutnya.
            “And then I know what that is, but I still didn’t know what I should do.
            “Thinking hard, trying hard and then I doing this fool thing. Love always makes us doing foolish things, isn’t it? Melankolis sekali.”
            Gadis itu tertawa kecil. “Bukan melankolis, tapi romantis.”
            “Aku bisa melakukan seratus kali lebih romantis dibanding ini pada gadis yang aku cintai.”
            “Beruntung sekali gadis itu.” Gadis itu kembali tertawa, lebih keras. Orang itu hanya menggerutu.
            Orang itu melihat arlojinya. Pukul empat sore. “Song Hwa-ya, kau mau mencari lanjutan kalimat-kalimat ini atau pulang denganku?”
            Gadis itu, Song Hwa menjawab sambil mengemas tas-nya. “Kau duluan saja. Aku mau memberikan laporan kegiatan klub pada Hyukjae dan sepertinya akan ada diskusi kecil.”
            “Kau tak apa pulang sendiri?” Orang itu terlihat khawatir.
            “Gwenchana, aku akan minta antar Hyukjae karena rapat mendadak ini adalah salahnya. Kalau terjadi sesuatu padaku maka itu menjadi tanggung jawabnya.”
            “Kau mengancamnya?”
            “Sedikit.” Song Hwa menjawab sambil tertawa kecil dan diikuti tawa orang itu.
            Cukup lama mereka berbincang dan akhirnya orang itu menutup pembicaraan. “Sudah sana temui ketua klub-mu yang bodoh itu. Aku pulang dulu.”
            “Okay. Bye, Donghae-ya!”
            Orang itu, Donghae hanya melambaikan tangan sambil terus berjalan.
            Song Hwa menelusuri koridor sekolah yang sudah agak sepi. Hanya ada murid yang sedang melakukan kegiatan klub atau mengerjakan tugas kelompok. Ia memasuki ruangan klubnya. Dilihat pantulan dirinya di depan cermin. Sepi. Bukankah seharusnya ruangan ini ramai karena akan ada rapat? Ia letakkan tasnya di lantai dan ia dikejutkan dengan padamnya lampu. Ia berteriak keras sebelum akhirnya menemukan cahaya di depan cermin yang membentuk kalimat Don’t be afraid. Tapi tetap saja ketakutan menjalar di tubuhnya.
            “I’m here now and I will hug you tight.” Song Hwa terpaku. Dirasakan sentuhan hangat terasa di lengannya, hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak sedikitpun takut muncul. Aneh, ia merasakan nyaman.
            “I love you.” Bisik terdengar. Ia mengenal suara itu, bahkan sangat familiar.
            “Would you be mine?”
            Lampu kembali menyala. Pria itu memeluknya erat. Tak pernah ia sangka bahwa deretan kalimat manis itu datang dari pria tersebut. Ia diam, masih belum percaya.
            “Song Hwa-ya, kau keberatan?” Tanya pria tersebut. Gadis itu menggeleng.
            “Then, may I know your answer?
            “The answer is y…yes.”
            Pria itu memutar tubuh Song Hwa dan menatapnya. Kecupan manis di puncak kepalanya membuat Song Hwa semakin memerah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia bukan tidak mencintai pria itu, tetapi ada seseorang yang membuatnya merasa ragu. Entah, hanya dia yang tahu.
            Mereka duduk berdampingan, agaknya canggung. Sudah hampir lima menit berlalu dan tak sepatah katapun terdengar di antara keduanya. “Ehm.” Pria itu berdehem. “Sudah sore. Ingin pulang bersama?” Pria itu bangkit dan mengulurkan tangannya.
            Song Hwa meraihnya dan ikut bangkit. “Bukankah akan ada rapat?  Aku sudah selesaikan laporannya.”
            Pria itu tertawa kecil, sedangkan Song Hwa menatapnya penuh tanya. “Kau kira aku serius? Sejak kapan klub kita membuat laoran kegiatan, eoh?”
            “L….lalu?”
            “Aku berbohong. Hehehe” Pria itu malah berkata bodoh sambil menggaruk kepalanya. Pukulan tak terhitung menerpa lengannya.
            “Hyukjae-ya! Pabbo!” Keluhnya sambil terus meluncurkan pukulan pelan.
            “See, yang bodoh itu kau.” Pria itu, Hyukjae menjulurkan lidahnya sambil meringis kesakitan.
            “Nappeun nom!”
            Hyukjae menggenggam tangan Song Hwa dan menatapnya dalam. “It’s hurt. So, stop it or I’ll kiss you right now.” Hyukjae menyeringai, sementara gadis itu menepis tangannya. Dengan langkah cepat ia meraih tasnya dan keluar dari ruangan klub. Hyukjae mengejar dan menarik tangannya.
            “Aku hanya bercanda. Jangan menjadi pemarah, nanti kau akan seperti eomma-ku.” Ucapnya.
            “Mwoya? Aku akan mengatakan ini pada Lee ajumma.”
            “Ya, hajima. Kau ingin kekasihmu dilempar sepatu oleh eomma-nya?”
            “Pasti akan menarik.” Song Hwa terkekeh.
            “Kau ingin aku sungguh-sungguh menciummu?”
            Song Hwa berlari menghindari Hyukjae sambil tertawa riang. Seperti inikah harusnya cinta yang ia rasakan? Mengapa semanis ini?

***
I want to hate you. But, seeing you so happy next to another person. Is exhausting, now not knowing anything. I tried to erase you. But it wasn’t something I could have. –Super Junior, Hate U Love U—

            “I got her.” Suara dari seberang sana terdengar begitu bahagia.
            “Jinjja? Beritahu aku, siapa wanita bodoh yang mau menerimamu?” Aku terkekeh mengoloknya.
            “Apa maksudmu, eoh?” mendengar jawaban itu aku tawaku pecah.
            “Ya, sikkeureo! Jang Song Hwa.”
            “Ne?” Tawaku tiba-tiba tercekat.
            “Geu yeoja, Jang Song Hwa.” Aku terpaku. Diam, entah harus mengatakan apa.
            “Donghae-ya? Kau masih disana? Kau tidak meninggalkanku dan ke toilet kan?”
            “E…eoh? Song Hwa yang itu?”
            “Iya, Song Hwa yang itu.”
            “Ahahaha, chukkae ne!”
            Kami berbincang lama. Ia, Hyukjae yang lebih sering bertanya, sedangkan aku hanya menjawab sekenanya. Kalimat-kalimat guyon yang biasa terlontar kala bicara dengan Hyukjae tertelan begitu saja. Aku tak pernah sekecewa ini.
            “Kalau begitu sudah, ya. Sepertinya hari ini kau sedang tidak bersemangat.”
            “Hem, laporan kegiatan klub-ku belum kuselesaikan.” Aku berkata asal.
            “Jaman sekarang mana ada yang mau berpusing-pusing dengan klub biologi, huh?” dan seketika itu sambungan telepon dari Hyukjae terputus.
            Kubanting tubuhku di atas kasur. Kulirik foto di atas meja, kuraih. Saat itu SMP, aku dan Song Hwa berhasil membawa pulang medali emas dance competition. Aku tetawa hambar. Getir rasanya.
            “Harusnya aku ikut klub dance, bukan biologi.” Gumamku tak guna. Ah, mengapa sesal tak bisa memutar waktu?
            Jang Song Hwa, finally you got it. Cinta yang selama ini kau cari dan kau angankan. Apa yang kau lakukan adalah yang terbaik. Apalah guna menunggu sebuah ketidakpastian. Hidup ini butuh suatu ketepatan. Jika terlambat sedikit saja, semua aka lenyap. Kini, aku tahu bahwa kepercayaan seseorang ada batasnya. Mianheyo. Bolehkah aku menyayangimu tanpa ada satu orang pun yang tahu?

***

            “Song Hwa-ya. Kalau aku sudah dewasa nanti, apa aku boleh memilikimu?” suara kecil itu terdengar ragu. “Tentu saja, tapi jadilah dancer yang hebat dulu supaya kita bisa menari bersama.” Donghae kecil mengangguk mantap membalas suara mungil tersebut. “yaksokhae?” “Ne, yaksokhae.” Jari mereka saling tertaut. Senyum terlukis di wajah mungil keduanya. Donghae dan Song Hwa dua belas tahun lalu, masih mengenakan seragam warna-warni taman kanak-kanak.
            Lengkung getir kulukis. Mungkin saatnya untuk menghapus semuanya. Bukankah kau tidak ingin menjadi yang kumau? Ini bukan tentang egois, tapi suatu kepastian. Kukagumi kesungguhanmu mengejar inginku, dancer. Tapi, akhirnya aku tahu kalau kau sudah menyerah tentang semua itu. Hatimu tak lagi untukku, bukan? Mungkin saja kau ingin mendapatkan seorang kutu buku dari klub biologi, bukan wanita childish yang hanya bisa mengimbangi gerakan tarianmu.
            Kuhela nafas perlahan, mencoba mengemas kenangan itu dalam kotak kecil di benakku. Semua sudah berlalu, mengapa aku tak membuka hatiku untuk orang lain? Harusnya aku tahu, mengapa Lee Donghae mengikuti klub biologi. Harusnya aku tahu kalau Donghae sudah tidak memiliki perasaan seperti dulu lagi terhadapku. Kenapa aku bersikukuh menunggunya kembali menari? Sungguh bodoh. Harusnya dengan semua itu aku tahu kalau Donghae ingkar.
            “Hot Times naega neoreul nunddeulttae all my life time ojik neoman gajyeododwae nal heundeul go shiryeonjwodo in jeonghal subakke eomneun geol neon hanappun in nae saram~”
            “Donghae?” kusentuh layar ponsel dan kujawab dengan sepatah kata “yeoboseyo?” dan suara berat terdengar.
            “Song Hwa-ya, apa aku mengganggumu?” aku merasaka atmosfer aneh dari getar suaranya.
            “Aniyo, waegeurae?”
            “Eum, chukka ne. Sangat senang mendengar kedua sahabatku berpacaran. Haha, aku sungguh tidak menyangka.” Suaranya terdengar bahagia, harusnya aku pun bahagia. Kini kepastian itu sudah jelas. Kini, aku bernafas lega ia mendukungku. Walaupun lengkung yang kulukis terasa hambar dan manik ini bersikeras menitikkan embunnya, aku rasa tak ada alasan untuk menagih janji itu dan memaksanya untuk tetap memberi hatinya untukku.
            “Song Hwa-ya, kau masih disana?”
            “Eoh, ne gomawoyo.” Aku tertawa sedikit.
            “Sejauh mana kau mengenal Hyukjae?”
            “Hyukjae? Ia ketua klub dance dan tariannya begitu bagus. Terkadang wajahnya terlalu bodoh untuk dipikirkan, tetapi saat dia menari wajahnya begitu cool. Selalu dipuji fans tetapi selalu dimarahi oleh guru di sekolah. Hahaha.”
            “Hanya itu? Bagaimana dengan tanggal lahirnya?”
            “Eum yang kudengar ia lahir pada bulan April, tapi aku tak tahu tanggal berapa.”
            “Masa kau tidak tahu tanggal berapa? Ia lahir tanggal 4 April, tingginya sekitar 175 cm dan beratnya sekitar 57 kg. golongan darahnya O. kau pernah mendengar rap-nya? Bagiku itu terdengar sangat centil hahaha. Ia juga berbakat menjadi seorang MC dan apalgi ya?”
            “D… Donghae-ya.”
            “Ne?”
            “A… aniyo, gwenchana. Eum, bagaimana dengan wanita di klub biologi? Pasti kau mengincar salah satu dari mereka, kan?”
            “Mwo? Aku tidak masuk klub biologi dengan alasan itu, pabbo.”
            “Ya! Aku tidak bodoh. Ayolah mengaku saja. Siapa? Eunjung? Hayoung? So Eun?”
            “Rahasia!” sambungan telepon ia putus. Entahlah, cara bicaranya aneh. Humornya bahkan terasa hambar, aku tak merasakan kelucuannya.
            4 April akan menjadi musim semi yang berbeda. Masih dua bulan lagi menuju April. Musim dingin akan berakhir dan musim semi akan dimulai bulan Maret. Beruntung sekali Hyukjae lahir pada bulan itu.

***
            Pagi telah menyembunyikan malam. Udara dingin masih menyelimuti kota Seoul. Song Hwa merapatkan jas musim dinginnya. Dihapus embun yang dibuat salju di kaca bus. Putih, semua putih. Begitu seterusnya bahkan sampai gedung sekolahnya.
            Sudah dua minggu berlalu. Selayaknya pagi sebelumnya yang selalu manis. Setangkai bunga selalu tertempel di depan lokernya. Pemberi yang sama setiap harinya. Sepagi apapun ia datang, bunga itu siap singgah di sana, menunggu sang penerima datang.
            Lembut, alunan gitar dipetik. Ditolehnya arah belakang, pemilik 175 cm itu berdiri di sana sambil memetik gitarnya. Perlahan suara lembutnya terdengar. “Jogeum deo gakkai sarang neowa naega jigeum idaero hangsang neoreul jikyeojoolge, Ddaeroneun jichyeoseo apeugo himdeulmyeon geujeo neon gidaemyeon dwae, Yeongweonhi happy together.”
            Song Hwa mengadu kedua telapak tangannya sambil tertawa. “Great!”
            “Kau hanya memberi tepuk tangan? Kau harus membayarnya.”
            “Membayar?”
            Hyukjae mengangguk lalu mencium pipinya sekilas. “Dengan itu.”
            “Aku akan memanggil Donghae untuk melakukan itu. Hahaha.”
            “Ya!”
            Mereka berkejaran lagi. Hubungan mereka terlihat lebih baik. Entah pagi, siang ataupun sore, Hyukjae selalu melakukan hal yang membuat Song Hwa tak henti tersenyum. Agaknya Song Hwa sudah mulai luluh. Hatinya sudah sepenuhnya menerima Hyukjae.
            “Nanti malam aku akan ke rumahmu. Aku ingin pinjam catatan kemarin.” Ucap Hyukjae.
            “Kau tidak mencatat lagi, huh? Jangan malas!”
            “Aku hanya tertinggal satu paragraf. Aku mencatatnya, kok. Sungguh.”
            “Arasseo, jangan datang di atas pukul sembilan atau aku tidak akan membukakan pintu.”
            “Ne, aratta.”

***
            Aku masih menunggu Song Hwa membuka pintu rumahnya. Tak sengaja kutemukan sebuah box di depan tempat sampah. Box tersebut sudah kusam. Jiwa penasaranku memaksaku untuk membuka isinya, sebuah buku diary. Aku terpaku setelah mengetahui semua. Donghae dan Song Hwa…
            “Kau menunggu lama?” aku menatap sumber suara itu. Ia merebut kasar buku yang kupegang.
            “Kelihatannya tukang sampah meninggalkannya. Harusnya ini sudah di bawa tadi pagi.” Ucapannya terdengar panik.
            “Song Hwa, kau dan Donghae…”
            “Oppa, ini catatan yang kau minta. Dijamin semua lengkap hehe. Ah, Ramyeon-ku! kau ingin pulang atau menuggu? Aku hanya memasak satu. Sebentar, ya.” Aku meraih tangannya.
            “Biarkan aku membawa buku itu juga.” Ia menatapku.
            “Aku mohon.” Ia menyerahkannya.
            “k… keundae, untuk apa? Semua itu masa laluku.”
            “Jangan pikirkan aku. Sudah sana, Ramyeon-mu akan rusak nanti. Aku pulang dulu.” Kulangkahkan kakiku menjauhi rumah Song Hwa. Aku tak menyangka kalau Song Hwa dan Donghae saling mencintai.
            Langkah kupacu semakin cepat hingga pagar putih itu kutemui. Sosok itu muncul di depan pintu usai aku memencet bel. Ia mempersilahkanku masuk dan memberi segelas air padaku. “Ada apa?” Tanyanya.
            Aku mengambil nafas dalam. “Kau kenal buku ini?” ia meraihnya.
            “Ini milik Song Hwa, bukan?” aku tak menjawab.
            “Seberapa jauh kau mengenal Song Hwa?” ia tertunduk sampai akhirnya menjawab.
            “Sangat sulit menungkapkan semua tentangnya. Terlalu banyak hal yang tak dapat aku ungkapkan. Secara keseluruhan, Ia gadis yang ceria, pintar dance dan ia sahabatku sejak kecil.” Aku terus menunggu sampai ia mengungkapkan semua. Ia menatapku sekilas.
            “Ia juga suka bernyanyi. Ia membenci musim dingin tetapi menyukai musim semi. Ia benci musim dingin karena tak bisa menikmatinya. Ia tidak bisa diterpa suhu rendah. Ia juga…”
            “Menyukaimu?” Potongku cepat. Ia menatapku agak terkejut.
            “Hyukjae-ya, aku…”
            “Aku tahu dan agaknya aku salah langkah. Tak seharusnya aku berpacaran dengannya dan menghancurkan perasaan kalian.”
            “Ia menerimamu, itu berarti dia sudah melupakanku, bukan?”
            “Awalnya kupikir begitu, tetapi setelah membaca seluruhnya aku akhirnya tahu semuanya. Mianhe.”
            “Untuk apa? ia begitu mencintaimu sekarang, bukankah begitu? Aku yakin kau menemukan ini di tempat sampah. Tintanya agak luntur, pasti sudah ditimpa salju berkali-kali.” Aku diam sampai akhirnya ia menatapku.
            “Hyukjae-ya, Song Hwa begitu menyayangimu. Aku mohon, jaga ia untukku.” Kutarik senyumku.
            “Pasti. Terimakasih sudah merelakannya untukku.” Ia pun tersenyum. Ia sahabat terbaikku.

***
            Februari hampir berakhir. Musim dingin pun begitu. Tak terasa tiga minggu sudah semua berjalan, Song Hwa dan Hyukjae. Kegiatan klub tidak lagi aktif. Saat-saat seperti ini, perpustakaanlah yang justru penuh siswa. Mereka bekerja keras agar dapat meneruskan ke universitas impian mereka.
            Tumpukan buku bahasa inggris terbangun sempurna di depan Hyukjae. Song Hwa menghentikan langkahnya di dekat Hyukjae dan mengambil tempat tepat di sampingnya. “Kau ingin mengambil sastra inggris, eoh?”
            Hyukjae tak berpaling dari bukunya, pemandangan yang baru kali ini Song Hwa melihatnya. “Bukan, aku akan mengambil seni di Amerika.”
            “Amerika?”
            Hyukjae berhenti sejenak dan memandang wajah sendu kekasihnya itu. “Maaf aku baru memberitahumu.” Ucapnya penuh sesal.
            “Itu berarti saat ulangtahun kau tak di sini?”
            “Kemungkinan seperti itu. Mianhe.”
            “Mengapa tidak kuliah di sini saja denganku?”
            “Aku ingin menjadi lebih hebat dari sebelumnya, saat pulang nanti aku akan membuatmu bahagia dan terpana, kau mengerti maksudku, bukan? Hahaha.”
            Song Hwa meninggalkan Hyukjae. Tak seperti dalam drama, Hyukjae bergeming memandang punggung Song Hwa yang menjauh.
            Song Hwa terus memicu langkah sampai akhirnya menabrak Donghae dan menjatuhkan buku-buku yang dibawanya.
            “Mianhe, Donghae-ya.”
            “Gwenchana, kau terlihat tergesa.” Ucap Donghae sambil merapikan bukunya. Song Hwa ikut membantunya.
            “Bukan tergesa, tetapi kesal.” Donghae kembali berdiri, disusul Song Hwa. Mereka melangkah bersama.
            “Wae? Apa Hyukjae genit dengan wanita lain?”
            “Aniyo, ia akan pergi ke Amerika dan kemungkinan ia tak di sini saat hari ulangtahunnya.”
            “Biarkan saja, ia kan akan sukses.”
            “Bukan begitu, aku tidak bisa long distance.”

***
            Esok paginya, bunga tersebut kembali singgah di depan loker Song Hwa. Senyum kembali terlukis di wajahnya. Sejurus kemudian ia rasakan sentuhan hangat itu, disusul dengan kata maaf yang begitu dalam. “Pergilah, aku akan mendukungmu.” Ucapnya lembut pada Hyukjae, pemilik sentuhan hangat itu.
            “Eoh, Donghae-ya! Kau akan ada praktek hari ini? Mau kubantu bawakan? Kau terlihat kesulitan.” Song Hwa menghampiri Donghae dan Donghae menatap Hyukjae bingung.
            “Ah, an.. aniyo.” Tolaknya namun Song Hwa berikeras membantunya. Sementara Hyukjae, ia hanya menatap mereka dari kejauhan.

***
            Sudah tiga hari ini Song Hwa bersikap aneh. Ia terlihat begitu dekat dengan Donghae. Its okay, because they’re friendship, tetapi entah mengapa aku menjadi semarah ini. Ia selalu meninggalkanku ketika bertemu Donghae. Bagaimanapun mereka pernah merasakan perasaan yang sama, aku takut jika aku pergi nanti, ia akan kembali kepada cinta pertamanya, Donghae. Aku sudah berusaha mendiamkannya dan menunjukkan kemarahanku, tetapi semakin aku marah ia semakin dekat dengan Donghae.
            Ponselku bergetar dan kuterima pesan masuk dari Song Hwa. “Oppa, buku catatanku kemarin belum kau kembalikan bukan? Donghae mau meminjamnya, bisa kau bawakan untukku? Aku akan menunggumu di taman bermain. Di rumahku sedang ada tamu, jadi tolong jangan datang ke rumahku.”
            Ah, masa bodoh. Ia harus tahu kalau aku marah padanya. Lagipula, yang butuh itu Donghae, mengapa harus aku yang mengantarkannya? Biar saja catatan itu menjadi kenang-kenangan saat aku pergi ke Amerika besok.
            Kumakan ramyeon yang baru saja matang. Saat suasana dingin seperti ini sangat enak memakah sesuatu yang hangat. Hangat? Song Hwa akan kedinginan menungguku. Ah, ia pasti akan kembali ke rumah jika bosan menunggu, aku juga tak menjawabnya dan mungkin ia mengerti kalau aku tidak akan datang.

***
            Sudah hampir satu jam gadis itu menunggu sambil membawa dua buah kotak berwarna putih dan merah. Satu persatu pengunjung taman bermain pergi. hanya ia yang sejak tadi tidak berpindah, tetap duduk di salah satu sisi ayunan. Ia tatap lagi arlojinya.
            “Oppa, apa kau tidak akan datang?” ia bermonolog, nadanya terdengar bosan.
            “Ah, pasti kau terjebak macet. Tenang oppa, aku akan menunggu di sini.” Lanjutnya sambil memasukkan tangan bersarungnya ke dalam jas musim dinginnya.
            Sementara di tempat lain, Hyukjae yang baru saja menyantap ramyeon-nya sedang serius berperang dengan playstation-nya, tak menyadari seorang gadis cantik dengan setia menunggu kedatangannya. Ia pandangi ponselnya dan jarinya menyentuh layar-nya, bermaksud mengirim pesan.
            “Jika ingin pinjam catatan, datang saja ke rumahku sendiri, dan katakan pada Song Hwa kalau kau sudah mengambilnya. Aku malas keluar hari ini. Ada game yang sedang aku selesaikan.” Dan terkirim pada sang penerima, Donghae. Tak berapa lama, sebuah pesan balasan masuk ke ponselnya.
            “Catatan apa? Aku tak berkata apa-apa pada Song Hwa. Bukankah seharusnya kau ke taman bermain? Ia akan menunggumu, bodoh! Kau tidak mau merayakan ulangtahun dengannya?” Hyukjae terdiam sesaat dan dengan tergesa ia pakai jas musim dinginnya. Ia tinggalkan playstation-nya tanpa dimatikan.
            Hyukjae berlari, berharap tak akan ada hal yang terjadi pada wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, terlambat karena gadis itu terlajur jatuh. Berkali-kali ia serukan namanya, tak ada jawaban yang terlontar.

***
           
            “Aku tidak bisa long distance.” Song Hwa menghembuskan nafas berat.
            “Suatu hubungan selalu punya kendala. Aku yakin Hyukjae tidak akan mengkhianatimu.” Ucapan Donghae terdengar meyakinkan.
            “Akupun yakin kalau Hyukjae tidak playboy, tapi sangat sulit melakukan hubungan seperti itu, aku hanya takut kepercayaanku diruntuhkan.”
            “Kalau begitu buatlah kesan yang manis sebelum ia pergi. aku yakin itu akan membuatnya selalu ingat kalau kau sangat mencintainya. Bagaimana kalau kau merayakan ulangtahunnya. Tapi, bukan di waktu sesungguhnya.”
            “Hahaha, ide bagus! Donghae, kau mau membantuku?”
            “Tentu saja. Apa?”
            “Membuatnya cemburu. Pasti sangat seru jika ia dikerjai terlebih dulu. Hahaha.”
            “Hah? Kau yakin?” Song Hwa mengangguk mantap.
            Tangis Hyukjae semakin keras usai semuanya tertutur melalui perantara Donghae. Kalau saja waktu dapat berputar kembali, akan ia hampiri gadisnya dan ia peluk dengan penuh bangga. Seharusnya ia percaya bahwa gadisnya tidak akan mengkgianatinya. Ia bahkan rela melepas cinta pertamanya untuk berusaha mencintainya. Ia menyesal, sangat menyesal.
            Kotak merah itu di genggamnya. Sebuah kotak musik berbentuk piano di dalamnya. Sangat indah, namun pemberinya telah pergi jauh dan tak akan pernah dapat digapainya meski ia memiliki seribu sayap. Hanya sesal yang terendap, mengenap di dasar hatinya.
            “Jangan lupakan ia, Hyukjae-ya.” Lirih Donghae kembali berucap.
            “Terimakasih sudah menjadi sahabat baik untuknya dan merelakannya untukku. Kalau saja kau yang berpacaran dengannya, semua ini tidak akan terjadi.”
            “Takdir memiliki semuanya yang terbaik. Bagiku, mencintai bukanlah untuk memiliki, tetapi bersedia untuk membuatnya bahagia. Aku tidak yakin selama ini aku telah berhasil membuatnya bahagia.” Ucap Donghae lagi.
***
 “Song Hwa-ya, jaga dirimu baik-baik. Aku dan Donghae akan menjadi seorang dancer yang hebat untukmu… anyeong saranga…”—Lee Hyukjae—

FINISH

Huaaaaahh, eotte readers? Komentarnya ya hehe. Ini cuma fiksi kok, Donghae ama suami author *re : Eunhyuk*plakk* bukan jadi dancer gara-gara ini *ELF juga tau kale* thanks for read *cipok readers*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar