Label

Senin, 14 Mei 2012

Storm and Spring | FF Oneshot







Title/ Author      : Storm and Spring / Shena En (@SNistriHyukJae or http://facebook.com/iamhansoorim)
Cast                       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Jang Song Hwa
Genre                   : Romantic-angst
Rating/Type       : PG (aman hohoho)/Oneshot
Disclaimer           : Eunhyuk sama Donghae milik Tuhan, theirself, Super Junior, ELF, Jewels, sama Fishy. Tapi  FF-nya punya author eh Eunhyuk juga deh.
A/N                 : Please leave your comment. Your participation will
help me. Please don’t bashing it if you dislike this story or pairing of this FF ^^v. I know this story is ABAL. But, DON’T COPY this story without PERMISSION. You can copy it but write MY NAME there^^. Yoroshiku onegaishimasu to Happy reading!!^^
______________________________________________________________________

Without you, I have no courage to live. Even one day, one minute, one second. This can’t be, how can I let you go? –FIX, Please Don’t Say—

            Pria itu duduk tertunduk dengan telapak tangan tertumpu di lutut. Tubuh itu bergetar, dua belah bibir pucatnya dikatupkan meredam isak. Helaian cokelat menyembunyikan wajah sendunya. Sudah hampir dua jam ia tak berkutik barang menukar posisi. Sesekali tetes bening jatuh menerpa lantai putih berloreng kelabu pucat, tempat kaki itu tertapak. Ia menangis.
            Pelan, langkah kaki terseok terdengar mendekat. Deru nafas sosok itu pun tak mampu membuatnya berhenti bergeming. Tangkupan telapak tangan di bahu juga tak berhasil membuatnya mengangkat wajah sekedar menyambut kedatangan sosok itu.
            “Waegurae?” Agak berbisik suara itu tersampaikan. Pura-pura ia tak dengar.
            “Bukankah sudah kukatakan agar terus menjaganya?” Lagi, sosok itu bersua. Agaknya naik satu oktaf dari suara sebelumnya.
            “Mianheyo.” Jawaban akhirnya terlontar. Suaranya lirih.
            “Any word can you say, expect it?” Tagih sosok itu. Pria itu kembali tenggelam dalam diam. Tak tahu kalimat apa yang harus tersampaikan.
            Sosok itu mengambil tempat disampingnya, diam. Hanya ketukan vantofel yang sesekali mengusik atmosfer senyap di antara keduanya.
            “Ia tak pernah bisa diterpa dingin terlalu lama, bukankah kau tahu hal itu?” sosok itu kembali membuka suara. Pria itu hanya membalas dengan anggukan.
            “Lalu mengapa kau mebiarkannya seperti itu, huh?” satu kepalan mendarat di pipi pria itu, tak ada respon selain rintihannya.
            “Jeongmal mianhe, Donghae-ya.”

***
I will love you until always, more than anyone in this world… –Sistar’s Hyorin, I Choose To Love You—

            Lengkung manis terlukis di wajah gadis itu. Sederet kalimat manis singgah rapi di depan pintu lokernya. Dirogohnya kantong rok berpetak hijaunya. Empat lembar kertas lainnya ditilik dan lengkungnya kembali terlukis.
            “Apa ini?” Sebuah tangan merenggutnya.
            “Every time, our eyes meet each other. Nothing special before, but something grew in my heart and being a big problem that I can’t found the solution, apa ini?
            Gadis itu bersandar di depan lokernya. “Aku temukan itu di laci meja. So sweet, right?” kadar senyumnya tak berkurang.
            Orang itu membuka lembar selanjutnya. “I tried to ignore it, but it forced me to find its mean.
            “Itu di buku matematika yang tertinggal di laci kemarin.”
            “Buku matematika? Bukannya akan lebih manis di dalam diary?”
            “Untuk apa membawa diary ke sekolah, eoh?”
            “Wanita itu suka curhat di mana saja, bukan?” Satu cubitan memuatnya meringis pelan. Ia lanjutkan membuka lembar selanjutnya.
            “It’s OK, I give up and follow what my heart want me to do.” Dilihat lembar selanjutnya.
            “And then I know what that is, but I still didn’t know what I should do.
            “Thinking hard, trying hard and then I doing this fool thing. Love always makes us doing foolish things, isn’t it? Melankolis sekali.”
            Gadis itu tertawa kecil. “Bukan melankolis, tapi romantis.”
            “Aku bisa melakukan seratus kali lebih romantis dibanding ini pada gadis yang aku cintai.”
            “Beruntung sekali gadis itu.” Gadis itu kembali tertawa, lebih keras. Orang itu hanya menggerutu.
            Orang itu melihat arlojinya. Pukul empat sore. “Song Hwa-ya, kau mau mencari lanjutan kalimat-kalimat ini atau pulang denganku?”
            Gadis itu, Song Hwa menjawab sambil mengemas tas-nya. “Kau duluan saja. Aku mau memberikan laporan kegiatan klub pada Hyukjae dan sepertinya akan ada diskusi kecil.”
            “Kau tak apa pulang sendiri?” Orang itu terlihat khawatir.
            “Gwenchana, aku akan minta antar Hyukjae karena rapat mendadak ini adalah salahnya. Kalau terjadi sesuatu padaku maka itu menjadi tanggung jawabnya.”
            “Kau mengancamnya?”
            “Sedikit.” Song Hwa menjawab sambil tertawa kecil dan diikuti tawa orang itu.
            Cukup lama mereka berbincang dan akhirnya orang itu menutup pembicaraan. “Sudah sana temui ketua klub-mu yang bodoh itu. Aku pulang dulu.”
            “Okay. Bye, Donghae-ya!”
            Orang itu, Donghae hanya melambaikan tangan sambil terus berjalan.
            Song Hwa menelusuri koridor sekolah yang sudah agak sepi. Hanya ada murid yang sedang melakukan kegiatan klub atau mengerjakan tugas kelompok. Ia memasuki ruangan klubnya. Dilihat pantulan dirinya di depan cermin. Sepi. Bukankah seharusnya ruangan ini ramai karena akan ada rapat? Ia letakkan tasnya di lantai dan ia dikejutkan dengan padamnya lampu. Ia berteriak keras sebelum akhirnya menemukan cahaya di depan cermin yang membentuk kalimat Don’t be afraid. Tapi tetap saja ketakutan menjalar di tubuhnya.
            “I’m here now and I will hug you tight.” Song Hwa terpaku. Dirasakan sentuhan hangat terasa di lengannya, hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak sedikitpun takut muncul. Aneh, ia merasakan nyaman.
            “I love you.” Bisik terdengar. Ia mengenal suara itu, bahkan sangat familiar.
            “Would you be mine?”
            Lampu kembali menyala. Pria itu memeluknya erat. Tak pernah ia sangka bahwa deretan kalimat manis itu datang dari pria tersebut. Ia diam, masih belum percaya.
            “Song Hwa-ya, kau keberatan?” Tanya pria tersebut. Gadis itu menggeleng.
            “Then, may I know your answer?
            “The answer is y…yes.”
            Pria itu memutar tubuh Song Hwa dan menatapnya. Kecupan manis di puncak kepalanya membuat Song Hwa semakin memerah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia bukan tidak mencintai pria itu, tetapi ada seseorang yang membuatnya merasa ragu. Entah, hanya dia yang tahu.
            Mereka duduk berdampingan, agaknya canggung. Sudah hampir lima menit berlalu dan tak sepatah katapun terdengar di antara keduanya. “Ehm.” Pria itu berdehem. “Sudah sore. Ingin pulang bersama?” Pria itu bangkit dan mengulurkan tangannya.
            Song Hwa meraihnya dan ikut bangkit. “Bukankah akan ada rapat?  Aku sudah selesaikan laporannya.”
            Pria itu tertawa kecil, sedangkan Song Hwa menatapnya penuh tanya. “Kau kira aku serius? Sejak kapan klub kita membuat laoran kegiatan, eoh?”
            “L….lalu?”
            “Aku berbohong. Hehehe” Pria itu malah berkata bodoh sambil menggaruk kepalanya. Pukulan tak terhitung menerpa lengannya.
            “Hyukjae-ya! Pabbo!” Keluhnya sambil terus meluncurkan pukulan pelan.
            “See, yang bodoh itu kau.” Pria itu, Hyukjae menjulurkan lidahnya sambil meringis kesakitan.
            “Nappeun nom!”
            Hyukjae menggenggam tangan Song Hwa dan menatapnya dalam. “It’s hurt. So, stop it or I’ll kiss you right now.” Hyukjae menyeringai, sementara gadis itu menepis tangannya. Dengan langkah cepat ia meraih tasnya dan keluar dari ruangan klub. Hyukjae mengejar dan menarik tangannya.
            “Aku hanya bercanda. Jangan menjadi pemarah, nanti kau akan seperti eomma-ku.” Ucapnya.
            “Mwoya? Aku akan mengatakan ini pada Lee ajumma.”
            “Ya, hajima. Kau ingin kekasihmu dilempar sepatu oleh eomma-nya?”
            “Pasti akan menarik.” Song Hwa terkekeh.
            “Kau ingin aku sungguh-sungguh menciummu?”
            Song Hwa berlari menghindari Hyukjae sambil tertawa riang. Seperti inikah harusnya cinta yang ia rasakan? Mengapa semanis ini?

***
I want to hate you. But, seeing you so happy next to another person. Is exhausting, now not knowing anything. I tried to erase you. But it wasn’t something I could have. –Super Junior, Hate U Love U—

            “I got her.” Suara dari seberang sana terdengar begitu bahagia.
            “Jinjja? Beritahu aku, siapa wanita bodoh yang mau menerimamu?” Aku terkekeh mengoloknya.
            “Apa maksudmu, eoh?” mendengar jawaban itu aku tawaku pecah.
            “Ya, sikkeureo! Jang Song Hwa.”
            “Ne?” Tawaku tiba-tiba tercekat.
            “Geu yeoja, Jang Song Hwa.” Aku terpaku. Diam, entah harus mengatakan apa.
            “Donghae-ya? Kau masih disana? Kau tidak meninggalkanku dan ke toilet kan?”
            “E…eoh? Song Hwa yang itu?”
            “Iya, Song Hwa yang itu.”
            “Ahahaha, chukkae ne!”
            Kami berbincang lama. Ia, Hyukjae yang lebih sering bertanya, sedangkan aku hanya menjawab sekenanya. Kalimat-kalimat guyon yang biasa terlontar kala bicara dengan Hyukjae tertelan begitu saja. Aku tak pernah sekecewa ini.
            “Kalau begitu sudah, ya. Sepertinya hari ini kau sedang tidak bersemangat.”
            “Hem, laporan kegiatan klub-ku belum kuselesaikan.” Aku berkata asal.
            “Jaman sekarang mana ada yang mau berpusing-pusing dengan klub biologi, huh?” dan seketika itu sambungan telepon dari Hyukjae terputus.
            Kubanting tubuhku di atas kasur. Kulirik foto di atas meja, kuraih. Saat itu SMP, aku dan Song Hwa berhasil membawa pulang medali emas dance competition. Aku tetawa hambar. Getir rasanya.
            “Harusnya aku ikut klub dance, bukan biologi.” Gumamku tak guna. Ah, mengapa sesal tak bisa memutar waktu?
            Jang Song Hwa, finally you got it. Cinta yang selama ini kau cari dan kau angankan. Apa yang kau lakukan adalah yang terbaik. Apalah guna menunggu sebuah ketidakpastian. Hidup ini butuh suatu ketepatan. Jika terlambat sedikit saja, semua aka lenyap. Kini, aku tahu bahwa kepercayaan seseorang ada batasnya. Mianheyo. Bolehkah aku menyayangimu tanpa ada satu orang pun yang tahu?

***

            “Song Hwa-ya. Kalau aku sudah dewasa nanti, apa aku boleh memilikimu?” suara kecil itu terdengar ragu. “Tentu saja, tapi jadilah dancer yang hebat dulu supaya kita bisa menari bersama.” Donghae kecil mengangguk mantap membalas suara mungil tersebut. “yaksokhae?” “Ne, yaksokhae.” Jari mereka saling tertaut. Senyum terlukis di wajah mungil keduanya. Donghae dan Song Hwa dua belas tahun lalu, masih mengenakan seragam warna-warni taman kanak-kanak.
            Lengkung getir kulukis. Mungkin saatnya untuk menghapus semuanya. Bukankah kau tidak ingin menjadi yang kumau? Ini bukan tentang egois, tapi suatu kepastian. Kukagumi kesungguhanmu mengejar inginku, dancer. Tapi, akhirnya aku tahu kalau kau sudah menyerah tentang semua itu. Hatimu tak lagi untukku, bukan? Mungkin saja kau ingin mendapatkan seorang kutu buku dari klub biologi, bukan wanita childish yang hanya bisa mengimbangi gerakan tarianmu.
            Kuhela nafas perlahan, mencoba mengemas kenangan itu dalam kotak kecil di benakku. Semua sudah berlalu, mengapa aku tak membuka hatiku untuk orang lain? Harusnya aku tahu, mengapa Lee Donghae mengikuti klub biologi. Harusnya aku tahu kalau Donghae sudah tidak memiliki perasaan seperti dulu lagi terhadapku. Kenapa aku bersikukuh menunggunya kembali menari? Sungguh bodoh. Harusnya dengan semua itu aku tahu kalau Donghae ingkar.
            “Hot Times naega neoreul nunddeulttae all my life time ojik neoman gajyeododwae nal heundeul go shiryeonjwodo in jeonghal subakke eomneun geol neon hanappun in nae saram~”
            “Donghae?” kusentuh layar ponsel dan kujawab dengan sepatah kata “yeoboseyo?” dan suara berat terdengar.
            “Song Hwa-ya, apa aku mengganggumu?” aku merasaka atmosfer aneh dari getar suaranya.
            “Aniyo, waegeurae?”
            “Eum, chukka ne. Sangat senang mendengar kedua sahabatku berpacaran. Haha, aku sungguh tidak menyangka.” Suaranya terdengar bahagia, harusnya aku pun bahagia. Kini kepastian itu sudah jelas. Kini, aku bernafas lega ia mendukungku. Walaupun lengkung yang kulukis terasa hambar dan manik ini bersikeras menitikkan embunnya, aku rasa tak ada alasan untuk menagih janji itu dan memaksanya untuk tetap memberi hatinya untukku.
            “Song Hwa-ya, kau masih disana?”
            “Eoh, ne gomawoyo.” Aku tertawa sedikit.
            “Sejauh mana kau mengenal Hyukjae?”
            “Hyukjae? Ia ketua klub dance dan tariannya begitu bagus. Terkadang wajahnya terlalu bodoh untuk dipikirkan, tetapi saat dia menari wajahnya begitu cool. Selalu dipuji fans tetapi selalu dimarahi oleh guru di sekolah. Hahaha.”
            “Hanya itu? Bagaimana dengan tanggal lahirnya?”
            “Eum yang kudengar ia lahir pada bulan April, tapi aku tak tahu tanggal berapa.”
            “Masa kau tidak tahu tanggal berapa? Ia lahir tanggal 4 April, tingginya sekitar 175 cm dan beratnya sekitar 57 kg. golongan darahnya O. kau pernah mendengar rap-nya? Bagiku itu terdengar sangat centil hahaha. Ia juga berbakat menjadi seorang MC dan apalgi ya?”
            “D… Donghae-ya.”
            “Ne?”
            “A… aniyo, gwenchana. Eum, bagaimana dengan wanita di klub biologi? Pasti kau mengincar salah satu dari mereka, kan?”
            “Mwo? Aku tidak masuk klub biologi dengan alasan itu, pabbo.”
            “Ya! Aku tidak bodoh. Ayolah mengaku saja. Siapa? Eunjung? Hayoung? So Eun?”
            “Rahasia!” sambungan telepon ia putus. Entahlah, cara bicaranya aneh. Humornya bahkan terasa hambar, aku tak merasakan kelucuannya.
            4 April akan menjadi musim semi yang berbeda. Masih dua bulan lagi menuju April. Musim dingin akan berakhir dan musim semi akan dimulai bulan Maret. Beruntung sekali Hyukjae lahir pada bulan itu.

***
            Pagi telah menyembunyikan malam. Udara dingin masih menyelimuti kota Seoul. Song Hwa merapatkan jas musim dinginnya. Dihapus embun yang dibuat salju di kaca bus. Putih, semua putih. Begitu seterusnya bahkan sampai gedung sekolahnya.
            Sudah dua minggu berlalu. Selayaknya pagi sebelumnya yang selalu manis. Setangkai bunga selalu tertempel di depan lokernya. Pemberi yang sama setiap harinya. Sepagi apapun ia datang, bunga itu siap singgah di sana, menunggu sang penerima datang.
            Lembut, alunan gitar dipetik. Ditolehnya arah belakang, pemilik 175 cm itu berdiri di sana sambil memetik gitarnya. Perlahan suara lembutnya terdengar. “Jogeum deo gakkai sarang neowa naega jigeum idaero hangsang neoreul jikyeojoolge, Ddaeroneun jichyeoseo apeugo himdeulmyeon geujeo neon gidaemyeon dwae, Yeongweonhi happy together.”
            Song Hwa mengadu kedua telapak tangannya sambil tertawa. “Great!”
            “Kau hanya memberi tepuk tangan? Kau harus membayarnya.”
            “Membayar?”
            Hyukjae mengangguk lalu mencium pipinya sekilas. “Dengan itu.”
            “Aku akan memanggil Donghae untuk melakukan itu. Hahaha.”
            “Ya!”
            Mereka berkejaran lagi. Hubungan mereka terlihat lebih baik. Entah pagi, siang ataupun sore, Hyukjae selalu melakukan hal yang membuat Song Hwa tak henti tersenyum. Agaknya Song Hwa sudah mulai luluh. Hatinya sudah sepenuhnya menerima Hyukjae.
            “Nanti malam aku akan ke rumahmu. Aku ingin pinjam catatan kemarin.” Ucap Hyukjae.
            “Kau tidak mencatat lagi, huh? Jangan malas!”
            “Aku hanya tertinggal satu paragraf. Aku mencatatnya, kok. Sungguh.”
            “Arasseo, jangan datang di atas pukul sembilan atau aku tidak akan membukakan pintu.”
            “Ne, aratta.”

***
            Aku masih menunggu Song Hwa membuka pintu rumahnya. Tak sengaja kutemukan sebuah box di depan tempat sampah. Box tersebut sudah kusam. Jiwa penasaranku memaksaku untuk membuka isinya, sebuah buku diary. Aku terpaku setelah mengetahui semua. Donghae dan Song Hwa…
            “Kau menunggu lama?” aku menatap sumber suara itu. Ia merebut kasar buku yang kupegang.
            “Kelihatannya tukang sampah meninggalkannya. Harusnya ini sudah di bawa tadi pagi.” Ucapannya terdengar panik.
            “Song Hwa, kau dan Donghae…”
            “Oppa, ini catatan yang kau minta. Dijamin semua lengkap hehe. Ah, Ramyeon-ku! kau ingin pulang atau menuggu? Aku hanya memasak satu. Sebentar, ya.” Aku meraih tangannya.
            “Biarkan aku membawa buku itu juga.” Ia menatapku.
            “Aku mohon.” Ia menyerahkannya.
            “k… keundae, untuk apa? Semua itu masa laluku.”
            “Jangan pikirkan aku. Sudah sana, Ramyeon-mu akan rusak nanti. Aku pulang dulu.” Kulangkahkan kakiku menjauhi rumah Song Hwa. Aku tak menyangka kalau Song Hwa dan Donghae saling mencintai.
            Langkah kupacu semakin cepat hingga pagar putih itu kutemui. Sosok itu muncul di depan pintu usai aku memencet bel. Ia mempersilahkanku masuk dan memberi segelas air padaku. “Ada apa?” Tanyanya.
            Aku mengambil nafas dalam. “Kau kenal buku ini?” ia meraihnya.
            “Ini milik Song Hwa, bukan?” aku tak menjawab.
            “Seberapa jauh kau mengenal Song Hwa?” ia tertunduk sampai akhirnya menjawab.
            “Sangat sulit menungkapkan semua tentangnya. Terlalu banyak hal yang tak dapat aku ungkapkan. Secara keseluruhan, Ia gadis yang ceria, pintar dance dan ia sahabatku sejak kecil.” Aku terus menunggu sampai ia mengungkapkan semua. Ia menatapku sekilas.
            “Ia juga suka bernyanyi. Ia membenci musim dingin tetapi menyukai musim semi. Ia benci musim dingin karena tak bisa menikmatinya. Ia tidak bisa diterpa suhu rendah. Ia juga…”
            “Menyukaimu?” Potongku cepat. Ia menatapku agak terkejut.
            “Hyukjae-ya, aku…”
            “Aku tahu dan agaknya aku salah langkah. Tak seharusnya aku berpacaran dengannya dan menghancurkan perasaan kalian.”
            “Ia menerimamu, itu berarti dia sudah melupakanku, bukan?”
            “Awalnya kupikir begitu, tetapi setelah membaca seluruhnya aku akhirnya tahu semuanya. Mianhe.”
            “Untuk apa? ia begitu mencintaimu sekarang, bukankah begitu? Aku yakin kau menemukan ini di tempat sampah. Tintanya agak luntur, pasti sudah ditimpa salju berkali-kali.” Aku diam sampai akhirnya ia menatapku.
            “Hyukjae-ya, Song Hwa begitu menyayangimu. Aku mohon, jaga ia untukku.” Kutarik senyumku.
            “Pasti. Terimakasih sudah merelakannya untukku.” Ia pun tersenyum. Ia sahabat terbaikku.

***
            Februari hampir berakhir. Musim dingin pun begitu. Tak terasa tiga minggu sudah semua berjalan, Song Hwa dan Hyukjae. Kegiatan klub tidak lagi aktif. Saat-saat seperti ini, perpustakaanlah yang justru penuh siswa. Mereka bekerja keras agar dapat meneruskan ke universitas impian mereka.
            Tumpukan buku bahasa inggris terbangun sempurna di depan Hyukjae. Song Hwa menghentikan langkahnya di dekat Hyukjae dan mengambil tempat tepat di sampingnya. “Kau ingin mengambil sastra inggris, eoh?”
            Hyukjae tak berpaling dari bukunya, pemandangan yang baru kali ini Song Hwa melihatnya. “Bukan, aku akan mengambil seni di Amerika.”
            “Amerika?”
            Hyukjae berhenti sejenak dan memandang wajah sendu kekasihnya itu. “Maaf aku baru memberitahumu.” Ucapnya penuh sesal.
            “Itu berarti saat ulangtahun kau tak di sini?”
            “Kemungkinan seperti itu. Mianhe.”
            “Mengapa tidak kuliah di sini saja denganku?”
            “Aku ingin menjadi lebih hebat dari sebelumnya, saat pulang nanti aku akan membuatmu bahagia dan terpana, kau mengerti maksudku, bukan? Hahaha.”
            Song Hwa meninggalkan Hyukjae. Tak seperti dalam drama, Hyukjae bergeming memandang punggung Song Hwa yang menjauh.
            Song Hwa terus memicu langkah sampai akhirnya menabrak Donghae dan menjatuhkan buku-buku yang dibawanya.
            “Mianhe, Donghae-ya.”
            “Gwenchana, kau terlihat tergesa.” Ucap Donghae sambil merapikan bukunya. Song Hwa ikut membantunya.
            “Bukan tergesa, tetapi kesal.” Donghae kembali berdiri, disusul Song Hwa. Mereka melangkah bersama.
            “Wae? Apa Hyukjae genit dengan wanita lain?”
            “Aniyo, ia akan pergi ke Amerika dan kemungkinan ia tak di sini saat hari ulangtahunnya.”
            “Biarkan saja, ia kan akan sukses.”
            “Bukan begitu, aku tidak bisa long distance.”

***
            Esok paginya, bunga tersebut kembali singgah di depan loker Song Hwa. Senyum kembali terlukis di wajahnya. Sejurus kemudian ia rasakan sentuhan hangat itu, disusul dengan kata maaf yang begitu dalam. “Pergilah, aku akan mendukungmu.” Ucapnya lembut pada Hyukjae, pemilik sentuhan hangat itu.
            “Eoh, Donghae-ya! Kau akan ada praktek hari ini? Mau kubantu bawakan? Kau terlihat kesulitan.” Song Hwa menghampiri Donghae dan Donghae menatap Hyukjae bingung.
            “Ah, an.. aniyo.” Tolaknya namun Song Hwa berikeras membantunya. Sementara Hyukjae, ia hanya menatap mereka dari kejauhan.

***
            Sudah tiga hari ini Song Hwa bersikap aneh. Ia terlihat begitu dekat dengan Donghae. Its okay, because they’re friendship, tetapi entah mengapa aku menjadi semarah ini. Ia selalu meninggalkanku ketika bertemu Donghae. Bagaimanapun mereka pernah merasakan perasaan yang sama, aku takut jika aku pergi nanti, ia akan kembali kepada cinta pertamanya, Donghae. Aku sudah berusaha mendiamkannya dan menunjukkan kemarahanku, tetapi semakin aku marah ia semakin dekat dengan Donghae.
            Ponselku bergetar dan kuterima pesan masuk dari Song Hwa. “Oppa, buku catatanku kemarin belum kau kembalikan bukan? Donghae mau meminjamnya, bisa kau bawakan untukku? Aku akan menunggumu di taman bermain. Di rumahku sedang ada tamu, jadi tolong jangan datang ke rumahku.”
            Ah, masa bodoh. Ia harus tahu kalau aku marah padanya. Lagipula, yang butuh itu Donghae, mengapa harus aku yang mengantarkannya? Biar saja catatan itu menjadi kenang-kenangan saat aku pergi ke Amerika besok.
            Kumakan ramyeon yang baru saja matang. Saat suasana dingin seperti ini sangat enak memakah sesuatu yang hangat. Hangat? Song Hwa akan kedinginan menungguku. Ah, ia pasti akan kembali ke rumah jika bosan menunggu, aku juga tak menjawabnya dan mungkin ia mengerti kalau aku tidak akan datang.

***
            Sudah hampir satu jam gadis itu menunggu sambil membawa dua buah kotak berwarna putih dan merah. Satu persatu pengunjung taman bermain pergi. hanya ia yang sejak tadi tidak berpindah, tetap duduk di salah satu sisi ayunan. Ia tatap lagi arlojinya.
            “Oppa, apa kau tidak akan datang?” ia bermonolog, nadanya terdengar bosan.
            “Ah, pasti kau terjebak macet. Tenang oppa, aku akan menunggu di sini.” Lanjutnya sambil memasukkan tangan bersarungnya ke dalam jas musim dinginnya.
            Sementara di tempat lain, Hyukjae yang baru saja menyantap ramyeon-nya sedang serius berperang dengan playstation-nya, tak menyadari seorang gadis cantik dengan setia menunggu kedatangannya. Ia pandangi ponselnya dan jarinya menyentuh layar-nya, bermaksud mengirim pesan.
            “Jika ingin pinjam catatan, datang saja ke rumahku sendiri, dan katakan pada Song Hwa kalau kau sudah mengambilnya. Aku malas keluar hari ini. Ada game yang sedang aku selesaikan.” Dan terkirim pada sang penerima, Donghae. Tak berapa lama, sebuah pesan balasan masuk ke ponselnya.
            “Catatan apa? Aku tak berkata apa-apa pada Song Hwa. Bukankah seharusnya kau ke taman bermain? Ia akan menunggumu, bodoh! Kau tidak mau merayakan ulangtahun dengannya?” Hyukjae terdiam sesaat dan dengan tergesa ia pakai jas musim dinginnya. Ia tinggalkan playstation-nya tanpa dimatikan.
            Hyukjae berlari, berharap tak akan ada hal yang terjadi pada wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, terlambat karena gadis itu terlajur jatuh. Berkali-kali ia serukan namanya, tak ada jawaban yang terlontar.

***
           
            “Aku tidak bisa long distance.” Song Hwa menghembuskan nafas berat.
            “Suatu hubungan selalu punya kendala. Aku yakin Hyukjae tidak akan mengkhianatimu.” Ucapan Donghae terdengar meyakinkan.
            “Akupun yakin kalau Hyukjae tidak playboy, tapi sangat sulit melakukan hubungan seperti itu, aku hanya takut kepercayaanku diruntuhkan.”
            “Kalau begitu buatlah kesan yang manis sebelum ia pergi. aku yakin itu akan membuatnya selalu ingat kalau kau sangat mencintainya. Bagaimana kalau kau merayakan ulangtahunnya. Tapi, bukan di waktu sesungguhnya.”
            “Hahaha, ide bagus! Donghae, kau mau membantuku?”
            “Tentu saja. Apa?”
            “Membuatnya cemburu. Pasti sangat seru jika ia dikerjai terlebih dulu. Hahaha.”
            “Hah? Kau yakin?” Song Hwa mengangguk mantap.
            Tangis Hyukjae semakin keras usai semuanya tertutur melalui perantara Donghae. Kalau saja waktu dapat berputar kembali, akan ia hampiri gadisnya dan ia peluk dengan penuh bangga. Seharusnya ia percaya bahwa gadisnya tidak akan mengkgianatinya. Ia bahkan rela melepas cinta pertamanya untuk berusaha mencintainya. Ia menyesal, sangat menyesal.
            Kotak merah itu di genggamnya. Sebuah kotak musik berbentuk piano di dalamnya. Sangat indah, namun pemberinya telah pergi jauh dan tak akan pernah dapat digapainya meski ia memiliki seribu sayap. Hanya sesal yang terendap, mengenap di dasar hatinya.
            “Jangan lupakan ia, Hyukjae-ya.” Lirih Donghae kembali berucap.
            “Terimakasih sudah menjadi sahabat baik untuknya dan merelakannya untukku. Kalau saja kau yang berpacaran dengannya, semua ini tidak akan terjadi.”
            “Takdir memiliki semuanya yang terbaik. Bagiku, mencintai bukanlah untuk memiliki, tetapi bersedia untuk membuatnya bahagia. Aku tidak yakin selama ini aku telah berhasil membuatnya bahagia.” Ucap Donghae lagi.
***
 “Song Hwa-ya, jaga dirimu baik-baik. Aku dan Donghae akan menjadi seorang dancer yang hebat untukmu… anyeong saranga…”—Lee Hyukjae—

FINISH

Huaaaaahh, eotte readers? Komentarnya ya hehe. Ini cuma fiksi kok, Donghae ama suami author *re : Eunhyuk*plakk* bukan jadi dancer gara-gara ini *ELF juga tau kale* thanks for read *cipok readers*

Jumat, 11 Mei 2012

WINTER BIRTHDAY (Oneshoot)


Tittle: WINTER BIRTHDAY
Length: Oneshoot
Cast:
·         Henry Lau
·         Lee Hyuk Jae
·         Song Kyu Chi
·         Song Sae Hwa

Author: Yuli Nurul Maulida (Song YuRi)
Fb: Yuli Nurul MauliElf
Twitter: @snowminrhi
Genre: Hurt, sad, romance.
Disclaimer: Super Junior belong to ELF. Sungmin is mine XD
FF ini Cuma fiksi, dan ini murni pemikiran dari otak author. DON’T COPAS tanpa ijin!!

Happy Reading J

#
#
#
#




“Menunggumu adalah kegiatanku sehari-hari, karena aku percaya kau akan datang meskipun waktu membuktikannya dimasa depan… ”

####~

2010…

Salju terus turun menyelimuti semua yang disentuhnya, menjadikan semuanya menjadi putih. Angin musim dingin terus menerpa tubuhku hingga menggigil kedinginan. Kurapatkan coat berbulu yang melilit pada tubuhku. Suhu minus 5 derajat tak membuatku berhenti berdiri disini. Kukeluarkan sebuah benda dari saku coat yang kugunakan. Kuamati benda bulat itu, didalamnya tampak angka-angka yang membentuk sebuah lingkaran dan juga terdapat jarum yang bergerak terus melewati angka itu.

“Huh, kau terlambat dua jam.”

Aku mulai mengedarkan pandangan mataku , mencari sekali lagi. Meyakinkan diriku sendiri orang yang kutunggu semenjak beberapa jam lalu benar-benar tidak datang. Yeah, yang kulihat hanya hamparan salju putih yang menutup jalanan ini dan hanya sedikit orang yang melewatinya. Ini sudah biasa terjadi, dia kembali tak datang. Aku tak menangis, rasanya aku benar-benar lelah menunggu sehingga melupakan bagaimana caranya menangis. Kulangkahkan kakiku yang daritadi hanya menurut untuk berdiri. Belum sempat beberapa langkah aku kembali menengok, benar benar memastikan.

“Untuk ke empat kalinya, kau tak menepati janjimu…” lirihku pelan. Aku kembali melangkah, menembus tebalnya salju yang menutupi jalanan.

***

“Kejutan. Saengil Chukkahamnida…” Sorak ramai terdengar dari beberapa orang setelah aku membuka pintu rumah dan menyalakan lampu. Terdapat sebuah kue yang cukup besar diantaranya. Seorang yeoja menghampiriku dan tersenyum lembut.

“Naui dongsaeng, saengil chukkaeyo.” Yeoja itu memelukku erat. Lama aku berada dalam pelukan kakak perempuanku. Aku melirik satu persatu orang yang berada dalam ruangan ini, mereka semua tersenyum padaku. yeah aku mengenal mereka semua, teman kuliahku.

“Ya! Onnie hentikan…” Aku mulai sadar dan berusaha melepaskan pelukan itu.

“Kami semua menyiapkan….”

“Gomawo.” Ucapku memotong omongan onnieku. “Kalian tidak usah melakukan hal tak berguna seperti ini. sebaiknya kalian semua pulang sebelum salju turun semakin lebat.” Aku menunduk dan tersenyum pada mereka semua.

“Ya! Kyu Chi…”Sae Hwa Onnie berteriak dan kupastikan dia akan memarahiku dan mengajakku bertengkar kembali. Aku tak perduli, segera aku berjalan ke kamarku yang tak jauh dari sini. Aku ingin sendiri.

BRAAKKK..

Pintu kamarku terbuka secara paksa setelah aku membuka coat dan menggantungkannya didekat lemari. Seorang yeoja yang berdiri tegak dan melipat kedua tangannya dibalik pintu, wajahnya tak seramah saat menyambutku sesaat yang lalu.

“Apa maksudmu Kyu Chi-ya? Kau mencoba mengusir mereka?” Tanya onnie ku sedikit berteriak. Aku melihatnya sebentar, wajahnya merah menandakan dia benar benar sedang marah.

“Aku tak mengusir mereka. Aku hanya tak ingin orang-orang melakukan hal yang tak berguna seperti itu.”

“Tak berguna maksudmu? Seharusnya kau bersyukur karena kau masih diberikan kehidupan sampai saat ini.” Sae Hwa onnie menarik nafas, cukup lama “Cepat, temui mereka dan rayakan bersama. Kau tahu mereka sudah menunggumu daritadi dan menyiapkan segalanya.” Sae Hwa onni mendekatiku dan meraih tanganku. Dia mencoba menarikku, aku tetap tak bergeming. Diam.

“Kau tahu kan aku benci ulang tahunku?” lirihku. Aku tersenyum pada sae hwa onnie, senyum yang menampakkan luka. “Aku lelah eon. Kau temui mereka dan suruh mereka pulang.” Lanjutku. Kutepis tangan sae hwa onnie yang memegang tanganku.

“Dia pasti tak menepati janjinya lagi bukan? Huh sudah kuduga.” SaeHwa onnie menyeringai dan menatapku tajam. “Kyu Chi-ya lupakanlah dia. Lupakanlah namja itu...”

Aku tetap diam tak bergeming. Sae hwa onnie sudah sering menyuruhku hal itu. Menyuruhku melupakan namja yang kucintai, Henry.

“Kau pikir bisa seenaknya menyuruhku melakukan hal itu? Dia itu namjachinguku. Dan aku percaya padanya.” Yakinku pada sae hwa onnie.

“Kau bahkan masih menganggapnya namjachingumu?? Setelah dia meninggalkanmu dan kau bahkan setia menunggunya selama empat tahun terakhir, Kyu Chi-ya mungkin saja henry sudah melupakanmu sekarang. Kau itu terlalu bodoh…”

“Aku tidak bodoh onnie. Aku hanya percaya pada janjinya, aku percaya pada keyakinanku. Aku yakin dia masih mengingatku dan mencintaiku…” Aku menekan kata per kata yang ku ucapkan.

“Kau selalu seperti ini di setiap hari ulang tahunmu. Lupakanlah dia, jika kau peduli pada dirimu sendiri. Percayalah, Dia tak akan kembali…” Sae Hwa onnie pergi meninggalkanku sendiri. Aku bisa menangkap jelas perkataan onnie barusan. Otakku berpikir secara logis dan mengingat secara jelas janji yang diucapkan Henry. Aku mengamati sebuah benda yang sedari tadi aku pegang, arloji putih itu. Aku hanya bisa kembali membuka ingatan yang selalu ku kenang itu…

***

Flashback..
2006

“Ya! Henry, kita mau kemana?” Aku terseok-seok mengimbangi langkah henry yang cepat. Tangan kiriku degenggam dengan erat oleh tangan kanannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya mengikuti langkah henry.

“Kau tahu Sae Hwa onnie pasti akan memarahimu nanti, karena kau tiba-tiba menculikku..” Aku mengingatkan henry, dia sedikit keterlaluan karena tiba-tiba menarik tanganku yang tengah bersama Sae Hwa onnie di Myeongdong. Sudah kusimpulkan pasti Sae Hwa onnie tengah panik karena mendapatiku yang tidak bersamanya.

“Biarkan saja.” Tanggapnya. Aku bisa melihat wajahnya yang putih dan mulus seperti bayi. Rambutnya yang kecoklatan diterpa angin musim dingin sehingga membuatnya sedikit berantakan.

Kami berhenti berlari disebuah jalan yang masih dekat dengan daerah myeongdong. Aku berusaha mengatur nafasku karena sudah berlari cukup jauh tadi. Kuedarkan mataku keseluruh penjuru tempat ini. Hanya terdapat pohon-pohon yang terselimuti salju disekitarnya. Sepi.

“Kau ingat tempat  ini?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Ini kan… jalan ini adalah tempat pertama kali kita bertemu. Eoh?”

“Benar …” ucapnya.

Aku menembus pikiran dan memoriku dengan henry. Pertama kali kami bertemu, tanpa kesengajaan. Pada musim gugur tahun lalu, saat aku aku berjalan melewati daerah ini sepulang sekolah tiba-tiba aku bertemu dengan seorang namja. Keadaannya cukup menyedihkan, dia terus menangis dipinggir jalan dan mengaku terpisah dari keluarganya. Kuketahui namja yang ternyata seumuran denganku itu bukan orang korea asli. Dia berasal dari kanada namun berdarah china dan Taiwan. Pantas saja bahasa koreanya itu sangat minim, dan benar-benar tidak mengetahui apapun tentang korea.

Aku menyelamatkannya, aku berusaha menemukan tempat tinggalnya di korea. Hubungan kamipun saat itu menjadi sangat dekat, sampai dia benar-benar menyatakan perasaannya. Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Kami seperti ditakdirkan untuk bersama.

“Aku selalu tertawa saat mengingat kau menangis saat itu. Kau itu laki-laki, memalukan sekali menangis seperti itu.” Ejekku yang menahan tawa.

“Aku saat itu tersesat, lagipula daerah ini sepi sekali. Bahasa koreaku saat itu sangat tidak bagus dan aku benar-benar tidak tahu daerah ini. jadi yang bisa kulakukan saat itu adalah menangis.” Bela Henry, dia mengerucutkan bibirnya kedepan. Omo.. kau membuatku gemas henry.

“Tetap saja kau itu sudah besar dan kau itu adalah namja.” Jelasku memberi penekanan pada kata namja.

“Memangnya tidak boleh kalau namja menangis?” gertaknya.

“Tidak boleh.” Ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Dia menatapku tajam dan menangkupkan tangannya pada wajahku.

“Kau begitu menggemaskan Kyu Chi-ya…” ucapnya sambil mengelus-ngelus pipiku. Aku menunduk malu, kupastikan wajahku saat ini sudah memerah.

“Kajja..” ajaknya dan menyuruhku duduk dipinggir trotoar jalan ini. Kurasakan suhu yang dingin kembali menggelitik tubuhku, hujan salju kali ini berhasil menutupi sebagian jalanan ini dengan warna putih.

Henry membuka kotak violin yang sejak tadi dibawa dan dipegang oleh tangan kirinya. Dia mengambil violin coklat itu dan memainkannya berdiri di depanku.

Nyaman, melodi yang terdengar benar-benar sangat indah. Harmonis. Lama aku menikmati melodi yang dimainkannya. Aku berdecak kagum saat henry telah selesai memainkan nada-nada itu.

“Hebat sekali…” kataku padanya, sebenarnya tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kehebatannya bermain violin. Dia memasukkan kembali violinnya dan tersenyum padaku.

“Saengil Chukkahamnida chagi.. Saengil Chukkahamnida untuk ulang tahunmu yang ke 18.”

Dan Chu~ dia mencium pipiku.

Aku terkejut atas tingkah lakunya yang mengagetkan. Aku menyembunyikan wajahku yang merona, malu.

“Kau tahu, lagu yang baru saja kumainkan adalah ciptaanku sendiri.” Ujarnya bangga.
“Jinjja? Itu sangat indah.” Tanggapku.

“Lagu itu khusus untukmu Kyu Chi. Judulnya Winter Birthday.”  Jelasnya semangat. Aku membulatkan mataku, kaget.

“Aku sangat menyukai itu Henry.” Ucapku semakin menundukkan wajahku. Aku yakin wajahku pasti sudah benar-benar merah. Henry-ya, kau pandai sekali membuat jantungku berdetak lebih cepat seperti ini dan membuatku gugup. Dia kemudian duduk disampingku.

“Kyu Chi-ya…” panggilnya.

“Hmm?” aku menjawab panggilannya dengan berdehem.

“Aku... Besok aku akan kembali ke Taiwan. ” Ungkapnya.

Aku tidak merespon ucapannya. Aku tahu kejadiannya akan seperti ini. henry datang ke korea bukan untuk menetap. Itu hanya untuk sementara waktu. Dia pasti akan kembali ke Taiwan atau kanada.

“Kau… tidak terkejut, eoh? Apa kau tidak merasa sedih jika aku pergi?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan, “Aku tahu akan seperti ini, dan aku belajar untuk tidak terkejut.” Jelasku. Kemudian aku mengambil tangan henry dan menggenggamnya, hangat. Bahkan suhu yang sangat dingin pun tetap membuat tangan henry hangat.

“Aku pasti akan sangat kesepian jika kau pergi.” Lanjutku.

Henry semakin mengeratkan genggamanku, dia menatapku dalam. “Aku juga, aku pasti akan sangat merindukanmu.” Ungkapnya. Aku sedikit senang mendengar ucapannya itu.

Dia mengambil sesuatu dibalik jaket musim dinginnya dan menyerahkannya padaku. Aku mengambil kotak kecil yang diberikan henry.

“Arloji..?” sahutku saat membuka kotak itu. Terlihat sebuah arloji ukuran mungil dengan warna putih yang terkesan elegan.

“Ne, aku juga punya yang sama.” Ucapnya sambil menunjukkan benda yang sama persis dengan yang kupegang.

“Jika kau merindukanku lihatlah arloji itu, karena aku juga pasti akan merindukanmu. Disetiap detiknya dan waktunya yang selalu berjalan, disetiap itu pula aku selalu mengingatmu dan merindukanmu.”

Aku tersenyum mendengar pernyataannya.

“Berarti kau akan selalu mengingatku setiap detik?” tanyaku menggodanya dan tersenyum lebar.

“Tentu saja.” Jawabnya singkat.

“Gomawo Henry. Ini adalah hari ulang tahun yang paling indah bagiku.” Ungkapku. “Karena ada kau semua hari menjadi sangat indah. Dan karena kau pula, aku jadi menyukai hari ulang tahun. Kau tahu, aku sebenarnya tidak menyukai hari ulang tahunku sendiri” lanjutku.

“Aku akan membuat hari ulang tahunmu menyenangkan dan indah setiap tahunnya. Aku juga akan selalu memainkan lagu yang kuciptakan untukmu pada hari ulang tahunmu.” Terang Henry.

“Bagaimana jika kau lupa hari ulang tahunku?” tanyaku takut-takut.

“Hari ulang tahunmu itu sangat mudah diingat, satu hari setelah natal. 26 Desember.” Terang Henry. “Tenang saja aku akan selalu mengingatnya disini.” Ucap henry sambil memegang dadanya. Aku tersenyum sendiri melihat itu.

“Apakah kau bisa menepatinya? Kau bahkan akan pergi ke Taiwan dan menetap disana.” Gertakku, aku tidak mau henry berjanji sesuatu yang tak bisa ditepatinya. Henry terdiam cukup lama, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Bagaimana kalau kita saling berjanji?” Usul Henry.

“Janji?”

Henry tersenyum simpul. “Janji pertama, kita harus berjanji kalau kita harus tetap saling mencintai. Yang kedua, dimasa sekarang dan masa depan kita tetap harus bersama. Ya meskipun hubungan kita akan menjadi jarak jauh tapi itu tidak boleh menjadi alasan. Ketiga…” henry menghentikan ucapannya dan terlihat sedikit berpikir.

“APA?” Tanyaku penasaran.

“Yang ketiga, Disaat hari ulang tahunmu, tepatnya pukul tiga sore kita berjanji akan bertemu disini. Dijalan ini. Dan kita akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama. Ottokhae??” Aku mengangguk pasti. Janji yang tak susah, semuanya pasti bisa kutepati.

“Tapi bagaimana jika ada yang melanggar. Apakah ada hukuman?”

“Hubungan kita berakhir.” Jawab Henry mantap. Ada perasaan aneh yang menyusup dalam hatiku. Yeah aku takut janji itu tidak ditepati.

“Kau pasti akan menepatinya kan?” tanyaku meyakinkan. Henry menatap mataku dalam dan menarik tubuhku kedalam pelukannya.

“Aku janji.” Ucapnya. Nafasnya menderu dan menggelitik leherku geli. Pelukannya semakin erat, hangat. Entahlah ada perasaan aku tak rela melepasnya pergi.

“Kau besok tak usah mengantarku ke bandara. Itu akan membuatku sangat susah meninggalkanmu. Arrasseo?” lirih henry tepat ditelingaku.

Aku mengangguk mendengar perintah dari Henry. aku termenung, aku merasa ini adalah terakhir kali kami bersama. Kutepis perasaan itu dan mencoba percaya pada janji yang dibuat sendiri oleh henry.
Tapi rasanya aku benar-benar tak bisa melepas pelukanmu kali ini, Henry Lau.

Flashback end


***

Aku masih mengamati arloji yang melingkar ditangan kiriku. Jarumnya masih bergerak dan berjalan, apakah itu tandanya henry masih mengingatku? Tak ada yang tahu. Sekarang dia di Taiwan dan aku benar-benar tidak bisa menghubunginya, komunikasi kami terputus.

“Jika ada yang melanggar, hubungan kita berakhir.” Aku ingat perkataan Henry empat tahun yang lalu. Apakah dia mempermainkanku? Membuat janji itu dan melanggarnya.

Tapi aku masih mencintainya, dan aku harus menunggunya setahun lagi.

Menunggu, aku lelah melakukan hal itu. Aku takut penantianku selama ini sia-sia. Aku takut Henry tak akan kembali.

Dan aku juga takut kepercayaanku semakin memudar..

***

Kuderu langkah kakiku semakin cepat. Salju yang mulai menipis menandai bahwa musim dingin akan segera berakhir. Ekor mataku benar-benar memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di jalanan ini. tapi sial, aku benar-benar tidak menemukan taksi. Sedangkan rumahku masih cukup jauh dari daerah ini.

Tap tap..

Aku mulai mendengar suara langkah kaki semakin mendekatiku, tepat berada dibelakangku. Perasaanku tidak enak. Aku hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Tap… tap…

Langkah itu semakin mendekat. Aku takut. Aku merutuki diri sendiri yang tadi memutuskan mengerjakan tugas sampai selarut ini di kampus, tempat kuliahku.

Tap..

Kuputuskan untuk memberanikan diri menengok kebelakang. Kosong. Tak ada siapa-siapa.

Aku kembali berjalan, sedikit berlari untuk mempercepat langkahku.

“Kyu Chi-ya…” aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku kembali menengok kebelakang. Kudapati seorang namja sedang berdiri dihadapanku sekarang. Dia tampan dan tinggi.

“Nuguseyo..?” tanyaku takut. Aku harus waspada, setidaknya wajah yang tampan tidak menjamin bahwa namja itu bukan penjahat.

“Kau Kyu Chi kan? Aku Hyuk Jae. Lee Hyuk Jae…” Terang namja itu. Aku masih berpikir, sedikit mengingat-ingat. Sepertinya nama nya familiar denganku, tapi aku lupa.

“Ice Cream Vanilla…” Ucapnya geram melihatku yang sejak tadi berusaha mengingat-ingat. Aku tersenyum mulai menemukan jawabanku.

“Oppa…” kataku senang.

*

“Bagaimana kehidupanmu sekarang?” tanyanya sambil sesekali melihat kearahku dan kembali fokus menyetir.

“Tidak terlalu bagus oppa.” Jawabku ketus. Hyuk Jae, orang yang kupanggil oppa dia adalah teman semasa kecilku dan Sae Hwa onnie. Menyenangkan sekali bukan bertemu kembali teman lama.

“Kenapa?” tanyanya penasaran.

Aku mulai menceritakan keadaanku sekarang. Yeah, hubunganku dan sae hwa onnie yang cukup buruk sekarang. Semuanya, kehidupanku yang menurutku sedikit kacau. Kecuali masalah henry.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku balik.

“Menyenangkan.” Jawab Hyuk Jae oppa singkat. Kami kembali menyelami masa lalu, saat aku dan hyuk jae oppa selalu bertengkar hanya karena ice cream vanilla. Kami tertawa, rasa humornya yang ringan mampu melupakanku sesaat tentang Henry.

“Jadi ini rumahmu?” tanyanya saat kami sudah sampai di depan  rumahku.

“Tentu saja oppa. Gomawo karena sudah mengantarku pulang.Lain kali kau mampir ya.” Ajakku padanya. “Oh ya, kau tidak menanyakan kabar Sae Hwa onnie?” tanyaku sebelum masuk kedalam rumah.

“Ah iya, sampaikan salamku untuk Sae Hwa!.” Ujar hyuk jae oppa. Dia tersenyum lebar dan memperlihatkan gusinya. Senyum khasnya.

“Ne, Annyeong oppa.” Kulambaikan tangan padanya. Entah kenapa aku nyaman berada disisinya. Hyuk jae oppa sudah kuanggap seperti oppa kandungku sendiri.

Pertemuan yang singkat, dan mampu merobohkan segala penantianku. Aku pun tak mengerti.

***

“Maukah kau menjadi yeojachinguku?” aku membulatkan mataku tak percaya.Kutatap wajah namja yang berada didepanku ini. dia tersenyum kikuk dan sedikit merapikan rambutnya yang padahal sudah benar-benar rapi.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak mengerti. Lee Hyuk Jae, kenapa dia seperti ini? tiba-tiba memintaku menjadi yeojachingunya. Hubunganku dengannya kupikir hanya sebagai oppa-dongsaeng.

“Oppa.. kau sedang bercanda kan?”

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” Hyuk Jae oppa malah berbalik menanyaiku. Kulihat matanya dalam, mencari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaanku saat ini. Tapi yang kulihat hanya sebuah ketulusan dimatanya.

“Lantas, kenapa kau memilihku?”

“Aku… Aku mencintaimu Kyu Chi…” Lirihnya. “Jadi apakah kau mau menjadi yeojachinguku?” tanyanya mantap.

“Oppa.. sebetulnya, aku sudah mempunyai namjachingu.” Ungkapku berterus terang. Hubunganku dengan Henry memang sangat sulit dan tidak jelas saat ini. tapi menurutku hubungan kami belum berakhir, belum resmi berakhir.

“Aku tahu itu. Henry Lau, namja yang berasal dari kanada berketurunan china dan Taiwan. Dia kan orangnya?” Aku kaget, Hyuk Jae oppa tahu itu. Padahal sebelumnya aku belum pernah menceritakan tentang henry sama sekali.

“Kumohon Kyu Chi-ya. Aku sudah mengetahui segala hal tentang henry dan kau. Itu sungguh tidak logis jika kau masih menunggunya. Kumohon, pertimbangkanlah…” dia menggenggam tanganku dan memohon padaku. ‘Tidak’ Ingin sekali aku mengatakan hal itu. Tapi lidahku seperti menolak untuk mengatakannya. Aku melepaskan genggaman tanganku dari Hyuk Jae Oppa.

“Aku sudah berjanji padanya op..”

“Bukankah dia sendiri juga sudah melanggar janjinya?” ucapnya memotong omonganku. “Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu.” Lanjutnya. Sedikit aku bisa menerawang kehidupanku bersama Hyuk Jae oppa. Bahagia, mungkin itu bisa kudapatkan. Nyaman, dia memang selalu membuatku terasa seperti itu. Tawa, tingkahnya yang lucu bisa membuatku tertawa puas. Tapi cinta dan ketulusan hati tak kurasakan jika bersamanya.

Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing. Ini sungguh sulit.

***

Kupandangi terus benda itu. Lalu , kubuka laci meja dan kutaruh benda itu disana. Tindakanku mungkin tepat. Aku ingin menguburnya, semua tentangmu dan kenangan denganmu henry..

“Mianhe, aku menyerah. Mungkin ini adalah akhir dari penantianku selama ini. Mungkin ini akhir dari rasa cintaku. Mungkin ini  akhir dari sakit yang kurasakan saat aku begitu lelah menunggumu…”


####~

2011..

Kehidupanku berjalan lancar sekarang. Hyuk Jae oppa, dia benar-benar berusaha untuk mengertiku dan membahagiakanku. Aku juga begitu, berusaha untuk mencintainya.

“Saengil Chukkahamnida chagi… Aku sudah menyiapkan sebuah tempat untuk merayakan ulang tahunmu. Ehm, tentu saja hanya kita berdua yang merayakannya.. kkkk
Pakai gaun ini dan berdandanlah yang cantik ^^
Segera aku akan menjemputmu…”

Begitulah pesan yang tertulis disebuah surat yang berwarna merah muda yang baru saja kuterima. Pesan itu juga disertai sebuah kotak yang cukup besar. Kubuka kotak itu, sebuah dress hitam selutut dengan model yang simple tapi terlihat elegan.

“Cepat kau siap-siap…!!!” perintah seseorang yang tiba-tiba muncul dibalik pintu kamarku.

“oppa, kau mengagetkanku saja.” Ucapku kaget, kusunggingkan senyum dibibirku. “Kemana kita akan pergi, eoh?” tanyaku penasaran.

“Rahasia.” Jawabnya singkat. “Aku menunggumu dimobil. Kutunggu paling lama 15 menit. Arrasseo?” lanjutnya berkata padaku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“Kyeopta.” Gumamku sendiri saat melihat pantulan diriku di cermin yang sudah memakai dress hitam itu. Aku memutuskan memakai cardigan untuk menutupi bagian atas tubuhku mengingat dress ini tak berlengan.

“Neomu yeppeo…” komentar seseorang. Kulihat Sae Hwa onnie sedang menatapku takjub disampingku.

“Ya onnie, kapan kau masuk? Seperti setan saja tiba-tiba datang.” Tanyaku kaget. Aku tak menyadari kehadirannya yang datang kekamarku. Aissh, kupikir hari ini orang-orang telah sukses membuatku selalu terkejut.

“Ya Kyu Chi… kau saja yang tidak menyadari kehadiranku.” Bentaknya. “Gomawo karena sudah menjadi Kyu Chi yang seperti dulu.” Lanjutnya berterima kasih. Aku mengernyitkan dahi, bingung.

“Memangnya Kyu Chi yang dulu seperti apa?” tanyaku bingung.

“Kyu Chi yang selalu ceria. Untungnya kau tidak memikirkan Henry lagi pada hari ulang tahunmu yang sekarang. Hyuk Jae, dia benar-benar sudah mengembalikanmu ke kehidupan yang normal.” Jelas sae hwa onni panjang lebar.

“Kumohon onnie, jangan sebut nama itu lagi.” Pintaku. Henry lau, meskipun sekarang aku bersama Hyuk Jae oppa tetap saja aku selalu merasa hatiku itu selalu bersama henry. Aku masih sangat mencintainya, itu yang membuatku sangat susah melupakan namja itu.

Sae Hwa onnie masih memandangku heran. Dia mengangguk, ya mungkin onnie mengerti bahwa aku tak ingin mendengar namanya lagi karena akan membuatku sangat susah melupakannya.

“Ppali, kau sudah siap kan? Hyuk Jae menunggumu diluar.” Ucap onnie memulai pembicaraan kembali. Aku mengangguk, bergegas melenggang keluar ruangan menemui namja chinguku itu.

“Dompetku… Aish, aku lupa meninggalkannya dikamar. Onnie, katakan padanya untuk menunggu sebentar lagi. Aku harus mengambil dompetku.”

Aku kembali ke kamar. Kucari- cari benda itu. ‘dimana aku menyimpannya?.’ Ujarku pelan, aku sedikit panik sekarang. Kembali kuingat-ingat terakhir kali menyimpannya. Di dekat ranjangku, tidak ada. Di dalam tasku, tidak ada. Lemari, juga tidak ada. Kucari benda berharga itu dilaci mejaku.

“PRAAAANG…”

Kudengar bunyi benda jatuh. Arloji itu, aku membulatkan mataku tak percaya. Kenapa arloji itu bisa terjatuh? Kuambil dan kuamati kembali arloji yang sudah lama tak kulihat itu. Kacanya retak dan jarumnya sudah tidak berjalan, itu sudah rusak. Aku masih tidak mengerti.

“Disetiap detiknya dan waktunya yang selalu berjalan, disetiap itu pula aku selalu mengingatmu dan merindukanmu.” Kembali kata-kata Henry terngiang dikepalaku.

Ini.. apa artinya? Apakah itu berarti Henry sudah tak mengingatku lagi. Perasaan itu menyusup kembali didalam hatiku. Dimana aku sangat merindukannya. Dimana aku selalu menunggunya.

“….pukul tiga sore kita berjanji akan bertemu disini. Dijalan ini. Dan kita akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama.”

Kulihat jam yang tergantung di dinding kamarku. Pukul 03. ‘Henry, kau menginginkanku untuk datang? Apakah kau juga berada disana?’ pertanyaan pertanyaan terus tumbuh dalam otakku.

“Henry…” gumamku pelan, sangat pelan. Bulir air jatuh tepat mengenai arloji itu. Aku terheran, aku menangis?

“Aku harus menemuimu…” lirihku lagi.

Kulangkahkan kakiku cepat, tanpa memperdulikan dress yang kugunakan dan sepatu high heels yang terpasang di kedua kakiku.

“Kyu Chi-ya….” Panggil seseorang kaget ketika aku melewatinya begitu saja. Aku berhenti melangkah. Sejurus kemudian dia memegang tanganku dan menyuruhku masuk kemobil.

“Tidak.” Kataku menepis tangannya.

“Wae? Bukankah kita akan pergi?” tanyanya heran.

“Aku harus menemui seseorang oppa. Mianhe, Jeongmal mianhe…” kataku merasa bersalah.

“Nuguya?” tanyanya datar dia menatapku dalam.

“Henry.” Jawabku singkat. Dia terdiam, masih menatapku dengan tatapan kecewa. “Mianhe oppa. Aku tidak bisa denganmu. Henry menungguku sekarang.” Jelasku padanya. Dia masih terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan.

“Apakah kau yakin dia juga akan menepati janjinya kali ini?” Tanyanya, masih dengan nada datar. Aku menatapnya tak percaya, kukira Hyuk Jae oppa akan memarahiku karena sikapku ini.

Aku mengangguk pelan. “Aku merasakannya oppa..”

“Pergilah…” ucapnya singkat dan tersenyum padaku. Aku terkejut mendengar Hyuk Jae oppa berkata seperti itu. Dia melepasku.

“Gomawo…” kusunggingkan senyum untuknya, senyum tulus dari hatiku yang terdalam. Kulangkahkan kembali kakiku.

“Kyu Chi..”

“Ne oppa?”

“Aku akan mengantarmu.” Ujarnya pelan dan dengan sigap menyuruhku masuk kedalam mobilnya.

Aku kembali terkejut atas perlakuannya. “Gomawo.” Ucapku lagi.

***

Mobil itu tepat berhenti disebuah jalan yang sepi. Biasanya tak banyak kendaraan dan orang yang lalu lalang disini. Kuedarkan pandanganku dan tak menangkap sesosok pun yang berada disini.

“Cepatlah turun.” Perintahnya. Kulihat sebuah ketulusan diwajah Hyuk Jae oppa. Sekali lagi aku membungkuk dan terus mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Jeongmal Kamsahamnida oppa.” Dia hanya tersenyum melihat tingkahku seperti itu. Aku lega, mungkin itu yang terbaikuntuk kami.

Aku turun dan melihat mobil itu segera meninggalkanku jauh dan semakin jauh.

“Kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik dariku oppa.” Ujarku lirih.

Aku kembali terfokus pada daerah ini. Semuanya masih sama seperti tahun-tahun lalu ketika aku selalu disini. Tahun inipun aku masih menunggunya, sudah lima kali. Kuedarkan sekali lagi kesemua penjuru tempat yang yang dapat dijangkau mataku.

DEG!

Jantungku berdebar, kulihat sosok itu. Namja yang duduk di pinggir trotoar tepat diseberang tempatku berdiri. Aku menyipitkan mataku, memastikan bahwa itu dia.

Aku mulai berjalan menghampirinya, pelan. Dia tak menyadari kehadiranku. Wajahnya terus menunduk melihat hamparan putih yang menutupi jalan.

Semakin mendekat. Aku terus memperhatikan sosok itu. Kulihat wajahnya tak banyak berubah. Lima tahun adalah cukup aku tak bertemu dengannya. Butiran air mata terus menetas dari mataku. Apakah aku bermimpi? Melihat wajah kyeopta itu lagi.

Aku berdiri disampingnya. Ingin segera kurengkuh badan itu. Dia masih tak menyadari kehadiranku. Dia masih menunduk melamun. Apa yang terjadi padamu Henry?

“Henry…” Aku mengucapkan nama itu. Bibirku bergetar ketika mengatakannya. Dia tampak terkejut dan langsung melihat kearahku.

“Kyu Chi…”

Dia menatapku hangat. Tatapan itu, aku sangat merindukannya. Aku semakin mendekatinya.

“PLAAKK…” Kutampar pipi putih mulus itu. Tampak terlihat sedikit bekas merah. Dia terkejut dan menatapku heran.

“Itu hukumanmu karena kau sudah empat kali tidak menepati janji.” Ujarku. Aku duduk tepat disampingnya. Segera kurengkuh badan itu. Kupeluk dia erat, sangat erat dan kuciumi pundaknya. Air mata terus menetes dan membasahi pipiku.

“Aku merindukanmu…” ucapku tepat ditelinganya. Henry masih diam. Kurasakan dia juga mulai membalas pelukanku. Tak lama dia melepasnya.

“Kyu Chi… apakah ini benar-benar kau?” tanyanya sedikit parau. Aku mengernyitkan dahiku. Heran.

“Ya! Kau masih saja bodoh henry. Apakah kau benar-benar sudah melupakan yeojachingumu?”

“Aniyo. Aku hanya tidak percaya bahwa kau masih mengingatku.” Aku masih menatapnya, heran

“PLAAKK…” Kutampar sekali lagi pipinya. Kali ini benar-benar membuat bekas merah dikulit pipnya yang putih.

“Itu semua untuk penderitaanku selama lima tahun ini karena menunggumu...” Henry terus menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mianhe…” ucapnya lirih. Kembali dia menarikku tubuhku dan memelukku. Kami terdiam seperti itu, membiarkan hati kami yang berbicara. Aku terus menangis, menangis karena akhirnya aku bertemu lagi dengannya. Menangis karena Henry masih mengingatku dan menepati janjinya kali ini.

“Don’t Cry baby…” ucapnya menghapus air mataku.

“Kau kemana saja selama ini? kenapa kau tak bisa dihubungi sama sekali? Kenapa kau tak pernah datang kesini dan menepati janjimu, eoh?” Tanyaku bertubi-tubi. “Ppabo henry, kau tahu aku begitu lelah menunggumu?” aku mulai memukul mukuli badannya dengan tanganku. Kuluapkan rasa amarahku padanya.

“Sorry, I’m so sorry…” Ucapnya. Kudengar suaranya masih seperti dulu, lembut.

“Tak apa, aku sudah memaafkanmu, aku juga sudah menghukummu Henry.” Kusunggingkan senyum disudut bibirku. Henry mendekatkan wajahnya diwajahku. Kuraskan tangannya memegang daguku, memaksaku sedikit mendongak keatas. Aku menutup mataku, merasakan deru nafasnya yang panjang dan hangat.Chu~ Kurasa bibir kami sudah menempel. Dia menggerakkan bibirnya, sedikit melumat bibirku dengan lembut. Aku hanya diam tidak bereaksi, menerima dengan pasrah perlakuannya.

“Sejujurnya, aku tidak bermaksud melanggar janji itu. Ada sesuatu yang terjadi padaku.” Dia mulai bercerita, memintaku untuk mendengar penjelasan darinya.

“Apa?”

Dia masih diam, matanya mulai kembali berkaca-kaca. Dia memegang tanganku erat, seolah tak ingin kami berpisah lagi. “Aku tidak bisa berjalan.” Ucapnya lirih.

“Itu tidak masuk akal Henry.” Sahutku. Aku mulai terfokus pada kedua kakinya. Tak ada hal yang aneh dengan kakinya. Hanya saja, memang sedari tadi henry hanya diam, tidak menggerakkan sama sekali kakinya.

“Kau berbohong kan? Bagaimana mungkin kau bisa sampai disini jika kau tidak bisa berjalan?” tanyaku tidak percaya. Dia menggeleng kepalanya pelan. “Aku datang bersama kakak ku tadi. Aku menyuruhnya untuk pergi, aku hanya ingin mengenang kenanganku bersamamu. Aku kira kau tak datang Kyu Chi, aku kira kau sudah melupakanku. Lima tahun sudah berlalu dan aku masih tidak percaya bahwa kau masih menungguku. Masih datang ketempat ini.” Jelasnya panjang lebar. Aku menangkap sesuatu yang tadi tidak kusadari berada disamping henry. Benda itu, tongkat  yang membantunya berjalan.

“Henry… Bagaimana..bagaimana ini bisa tejadi?” aku tidak bisa menahan tangisanku keluar. Aku tidak ingin mempercayai ini. Kenapa ini terjadi padamu henry?

“Tepat empat tahun lalu, saat aku akan berangkat ke bandara dan pergi ke korea untuk menemuimu. Aku terlibat kecelakaan cukup besar. Aku tidak terlalu mengingat itu, yang kutahu saat aku sadar aku sudah mendapati diriku yang sudah koma selama dua bulan.” Dia kembali memulai cerita.”Saat itu aku juga tahu bahwa semua badanku tak bisa digerakkan. Aku menderita cacat fisik Kyu Chi…” aku membelalakkan mataku tak percaya, begitu dalam luka yang Henry dapat selama ini.

“Aku sudah berusaha keras untuk menjalani pengobatan dan terapi agar bisa sembuh. Akhirnya semuanya telah kembali menjadi normal, kecuali kakiku.” Lanjutnya bercerita. “Aku sudah sangat berusaha selama empat tahun ini untuk bisa berjalan kembali. Tapi itu tidak mudah, aku tetap tidak bisa berjalan.”

“Aku tidak pernah kembali ke korea semenjak saat itu. Aku malu jika bertemu denganmu, aku takut kau tak bisa menerima keadaanku…” Aku menatapnya penuh rasa kecewa. Kecewa karena selama ini dia tidak memberitahu keadaannya padaku. Aku memegang dan mengelus pipinya yang masih menampakkan warna merah karena tamparanku tadi.

“Kau tak usah malu dan takut. I’ll be with you…  Apapun yang terjadi.” Ucapku tegas dan mantap. Dia tersenyum tipis dan semakin menggenggam erat tanganku.

“Thank you…”

“Kau pasti bisa berjalan kembali. Percayalah.” Dia mengangguk pelan. Kami terdiam, mengembara dengan pikiran masing-masing.

“Kau melupakan satu hal.” Ucapku memulai pembicaraan.

“Apa?”

“Ulang tahunku.” Kulihat dia menepuk jidatnya. Aku mengerucutkan bibirku dan tertawa sendiri melihat tingkahnya yang kebingungan seperti itu.

“Sebenarnya aku ingat. Hanya saja tadi itu tebawa suasana jadi aku lupa.” Ujarnya mencari alasan.

“Ehm aku akan mengucapkannya sekarang. Saengil Chukkaehamnida, saengil chukkahamnida, saengil Chukkahamnida naui sarang. Happy birthday for you my baby.” Aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu saat menyanyikan itu.

“Bisa diterima.” Kataku ketus.”Kau juga melupakan satu hal, dulu kau berjanji untuk memainkan lagu winter birthday didepanku dengan violinmu itu.”

“Aku tidak membawa violin.” Katanya jujur. Dia mengeluarkan ponselnya, menekan tuts keypad dan menunggu seseorang mengangkat teleponnya.

“Untuk apa?” Tanyaku bingung.

“Aku menelepon kakak ku. Akan kusuruh dia kesini dan membawakanku violin.” Aku segera mengambil ponsel ditangan henry dan mematikannya. Dia terlihat bingung dengan tingkah lakuku.

“Ya! Kyu Chi apa yang kau lakukan?” Tanyanya heran, dia menaikkan nada bicaranya. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman polosku.

“Aku hanya ingin berdua denganmu sekarang. Aku tidak akan membiarkan kakakmu itu datang mengganggu kita.” Kataku. Kusenderkan kepalaku dipundaknya, terasa nyaman.

“Bukankah kau ingin aku memainkan lagu winter birthday dengan violinku?” Tanya Henry.

Aku menggeleng pelan. “Itu tak perlu. Hanya ada kau sekarang pun aku senang. Aku sangat bahagia bisa bersamamu kembali.” Lirihku pelan.

Kami menikmati itu, kebersamaan kami yang dulu hilang dengan ditemani hamparan putih yang tampak sangat indah bagiku. Ini musim dingin sekaligus hari ulang tahun terindah bagiku.

-END-

Huwaa, akhirnya aku bisa publish juga ff ini. ini khusus untuk eommaku tercinta, Uchie *not real*. Mianhe jika tak sesuai harapan, maklum diriku tidak mahir membuat kata-kata yang membuat ff jadi bagus. Mianhe kalo geje dan sangat aneh XP *BOW 90 DRAJAT

Maaf juga karena membuatmu menunggu lama, kalo itu salahkan modem yang tak berpulsa(?) *kebanyakan minta maaf XD

Untuk readers yang sengaja baca atau Cuma ikutan lewat. Dimohon meninggalkan jejak dengan memberikan comment. Yang gak mau ditag, feel free to remove. Pokoknya jangan jadi silent reader deh, itu sangat tidak menghargai author yang udah cape mikir dan ngetik. Pokoknya yang jadi silent reader gue kawinin biasnya… hahaha *ketawa bareng umin*

KAMSAHAMNIDA J